Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Selasa, 24 Agustus 2010

BELAJAR MAKNA RAMADHAN (bagian.1)










Definisi Puasa


1.1. Definisi Secara Bahasa

Ash-Shiyam (puasa) dalam bahasa Arab bermakna 'menahan diri', seperti firman Allah :

Aku telah bernazar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara) (Maryam, 19:26).

1.2. Definisi Secara Istilah Syari

Adapun secara istilah syari adalah 'menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat'.

2 Keutamaan-Keutamaan Puasa dan Bulan Ramadhan

2.1. Keutamaan Puasa

Telah ada perintah yang menunjukkan bahwa puasa merupakan satu ibadah yang dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah. Di samping itu, telah dijelaskan keutamaan-keutamaannya, di antaranya adalah yang terkandung dalam firman Allah :

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Ahzab, 33:35).

Dan juga firman Allah :

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. (Al-Baqarah, 2:184).

Rasulullah sendiri telah menjelaskan keutamaan puasa dalam hadits-haditsnya yang sahih, antara lain adalah:

a. Puasa merupakan benteng atau perisai sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah:

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaknya dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang tidak mampu, maka seharusnya dia berpuasa karena puasa itu adalah benteng atau perisai baginya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Ibnu Masud).

Hadits ini menjelaskan bahwa puasa dapat mengekang syahwat dan memperlemahnya, sehingga dia bisa menjadi perisai seorang muslim dari syahwat dan hawa nafsu - dua hal yang selalu menggiring manusia ke neraka Jahannam. Oleh karena itu, Nabi bersabda dalam hadits yang lain,

Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasanya itu dari api neraka (sepanjang perjalanan) tujuh puluh tahun. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari hadits Abu Sa'id al-Khudriy).

b. Puasa dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga, sebagaimana hadits Abu Umamah bahwa beliau pernah berkata kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkan diriku ke dalam surga. Beliau menjawab,

Berpuasalah, tidak ada yang seperti puasa. (Riwayat an-Nasaiy, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dengan sanad yang sahih).

c. Orang yang berpuasa itu mendapat dua kebahagiaan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah , beliau berkata, Rasulullah bersabda:

Allah berfirman, 'Semua amalan Bani Adam untuknya, kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.' Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada satu hari, maka janganlah berkata-kata kotor dan keji. Jika ada orang yang mencelanya dan menyakitinya, hendaklah dia berkata, 'Aku sedang berpuasa.' Demi Zat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wangi misik. Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan yang membahagiakannya, yaitu jika berbuka, dia berbahagia, dan jika berjumpa dengan Rabnya dia berbahagia dengan puasanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

Dalam hadits inipun terdapat dua keutamaan yang lain, yaitu:

d. Pahala orang yang berpuasa dilipatgandakan, dan

e. Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih baik di sisi Allah daripada wangi misik.

f. Orang-orang yang berpuasa diberikan pintu khusus di surga yang diberi nama ar-Rayyan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ,

Sesungguhnya di dalam surga terdapat pintu yang dinamakan ar-Rayyan. Masuk dari pintu itu orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat; tidak masuk dari pintu itu seorangpun selain mereka. Kalau mereka semua telah masuk (ke dalam surga), maka pintu itu ditutup sehingga tidak dapat lagi seorangpun masuk melaluinya. Maka jika telah masuk orang yang terakhir dari mereka, pintu itupun ditutup. Barangsiapa yang masuk, akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan haus selamanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Sa'id Al Khudriy).

2.2 Keutamaan Bulan Ramadhan

a. Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran karena Alquran diturunkan pada bulan tersebut sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Albaqarah ayat 185:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah dia berpuasa.Dalam ayat di atas, bulan Ramadhan dinyatakan sebagai bulan Alquran diturunkan, kemudian pernyataan tersebut diikuti dengan perintah yang dimulai dengan huruf –yang berfungsi menunjukkan makna 'alasan dan sebab'– dalam . Hal itu menunjukkan bahwa sebab dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena di dalamnya diturunkan Alquran.

b. Dalam bulan ini, para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka sebagaimana yang disabdakan Rasulullah,

Jika datang bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu para setan. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

Oleh karena itu, kita dapati dalam bulan ini sedikit terjadi kejahatan dan kerusakan di bumi karena sibuknya kaum muslimin dengan berpuasa dan membaca Alquran serta ibadah-ibadah yang lainnya; dan juga dibelenggunya para setan pada bulan tersebut.

c. Di dalamnya terdapat satu malam yang dinamakan lailatul qadar, satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Qadr.

3 Kewajiban Berpuasa di Bulan Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah atas orang-orang mukmin dan merupakan salah satu dari Rukun Islam yang Lima, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam Alquran dan as-Sunnah serta ijmak kaum muslimin.

a. Dalil dari Alquran:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah, 2:183-185).

b. Dalil dari as-Sunnah:

1. Hadits Thalhah bin Ubaidullah. Beliau berkata,

Seorang arab pedalaman datang kepada Nabi e dalam keadaan kusut rambutnya - dan terdapat - laki-laki itu, 'Beritahulah aku apa yang diwajibkan atasku dari puasa.' Rasulullah menjawab, 'Ramadhan, kecuali kalau engkau ingin tambahan.' (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

2. Hadits Ibnu Umar. Beliau berkata, Rasulullah bersabda,

Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu: syhadatain, menegakkan solat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa bulan Ramadhan. (Riwayat al-Bukhariy).

c. Dalil dari Ijmak kaum muslimin:

Kaum muslimin telah menyepakati kewajiban puasa Ramadhan sejak dahulu sampai sekarang.

4 Persiapan Menghadapi Ramadhan

4.1 Menghitung Bulan Syakban

Salah satu bentuk persiapan dalam menghadapi Ramadhan yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah menghitung bulan Syakban, karena satu bulan dalam hitungan Islam adalah 29 hari atau 30 hari sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah e dalam hadits Ibnu Umar, beliau bersabda:

Satu bulan itu 29 malam. Maka jangan berpuasa sampai kalian melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka genapkanlah 30 hari. (Riwat al-Bukhariy).

Maka tidaklakh kita berpuasa sampai kita melihat hilal (tanda masuknya bulan). Oleh karena itu, untuk menentukan kapan masuk Ramadhan diperlukan pengetahuan hitungan bulan Syaban.

4.2 Melihat hilal Ramadhan

Untuk menentukan permulaan bulan Ramadhan diperintahkan untuk melihat hilal, dan itulah satu-satunya cara yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu' (6/289-290) dan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (3/27). Dan ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah yang berkata, Kita sudah mengetaui dengan pasti bahwa termasuk dalam agama Islam beramal dengan melihat hilal puasa, haji, atau iddah (masa menunggu ), atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berhubungan dengan hilal. Adapun pengambilannya dengan cara mengambil berita orang yang menghitungnya dengan hisab, baik dia melihatnya atau tidak, maka tidak boleh. [Lihat: Majmu' al-Fatawa 25/132).

Kemudian perkataan beliau ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Sedang munculnya masalah bersandar dengan hisab dalam hal ini baru terjadi pada sebagian ulama setelah tahun 300-an. Mereka mengatakan bahwa jikalau terjadi mendung (sehingga hilal tertutup ) boleh bagi orang yang mampu menghitung hisab untuk beramal dengan hisabnya itu hanya untuk dirinya sendiri. Jika hisab itu menunjukkan rukyah, maka dia berpuasa, dan jika tidak, maka tidak boleh. (Lihat: Majmu' al-Fatawa 25/133). Lalu, bagaimana keadaan kita sekarang?

Adapun dalil tentang kewajiban menentukan permulaan bulan Ramadhan dengan melihat hilal sangat banyak, di antaranya adalah:

1. Hadits Ibnu Umar terdahulu.

2. Hadits Abu Hurairah. Beliau berkata, Rasulullah bersabda,

Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian (untuk idul fithri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Syakban 30 hari. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

3. Hadits 'Adi bin Hatim , beliau berkata, Rasulullah bersabda,

Jika datang Ramadhan maka berpuasalah 30 hari kecuali kalian telah melihat hilal sebelumnya. (Riwayat ath-Thahawy dan ath-Thabrany dalam al-Kabir 17/171, dan dihasankan Syaikh al-Albany dalam Irwa' al-Ghalil nomor hadits 901).

4.3 Puasa pada Hari yang Diragukan

Berpuasa pada hari yang diragukan, apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum, adalah terlarang sebagaimana di sebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Janganlah mendahului puasa Ramadhan dengan puasa satu hari atau dua hari (sebelumnya), kecuali orang yang (sudah biasa) berpuasa satu puasa (yang tertentu), maka hendaklah dia berpuasa. (Riwayat Muslim).

Penentuan bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal dapat ditetapkan dengan persaksian seorang Muslim yang adil sebagaimana yang dikatakan Ibnu Umar :

Manusia sedang mencari hilal, lalu aku khabarkan Nabi e bahwa aku telah melihatnya maka beliau berpuasa dan memerintahkan manuasia untuk berpuasa. (Riwayat Abu Dawud, ad-Darimy, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al-Baihaqy).

5 Amalan -Amalan Yang Berhubungan Dengan Puasa

5.1 Niat

Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib atas setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya karena Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu. (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqy dari Hafshah binti Umar).

Dan niat tempatnya di hati sedang melafalkannya itu termasuk kebidahan. Dan berniat puasa pada malam hari khusus untuk puasa wajib saja.

5.2. Waktu Puasa

Adapun waktu puasa dimulai dari terbit fajar subuh sampai terbenam matahari dengan dalil firman Allah,

Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar.(Al-Baqarah, 2:186).

Dan perlu diketahui bahwa Rasulullah telah menjelaskan bahwa fajar ada dua:

a. Fajar kazib (fajar awal). dalam waktu ini belum boleh dilakukan solat subuh dan dibolehkan untuk makan dan minum bagi yang berpuasa.

b. Fazar shodiq (fajar yang kedua/subuh) sebagaimana hadits Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda,

Fajar itu ada dua. Adapun yang pertama, maka dibolehkan makan dan tidak boleh melakukan solat, sedang yang kedua, maka diharamkam makan dan dibolehkan solat. (Riwayat Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, ad-Daruqutny, dan al-Baihaqy dengan sanad yang sahih)

Untuk mengenal keduanya dapat dilihat dari bentuknya. Fajar yang pertama, bentuknya putih memanjang vertikal seperti ekor serigala. Sedangkan fajar yang kedua, berwarna merah menyebar horisontal (melintang) di atas lembah-lembah dan gunung-gunung dan merata di jalanan dan rumah-rumah, dan jenis ini yang ada hubungannya dengan puasa.

Jika tanda-tanda tersebut telah tampak, maka hentikanlah makan dan minum serta bersetubuh. Sedangkan adat yang ada dan berkembang saat ini – yang dikenal dengan nama imsak – merupakan satu kebidahan yang seharusnya ditinggalkan. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar – seorang ulama besar dan ahli hadits yang bermazhab Syafi'i yang meninggal tahun 852 H – berkata dalam kitabnya yang terkenal Fath al-Bary Syarh al-Jami' ash-Shohih (4/199), Termasuk kebidahan yang mungkar adalah apa yang terjadi pada masa ini, yaitu mengadakan azan yang kedua kira-kira sepertiga jam sebelum fajar dalam bulan Ramadhan dan mematikan lentera-lentera sebagai alamat untuk menghentikan makan dan minum bagi yang ingin berpuasa, dengan persangkaan bahwa apa yang mereka perbuat itu demi kehati-hatian dalam beribadah. Hal seperti itu tidak diketahui, kecuali dari segelintir orang saja. Hal tersebut membawa mereka untuk tidak azan, kecuali setelah terbenam beberapa waktu (lamanya) untuk memastikan (masuknya) waktu-menurut persangkaan mereka- lalu mengakhirkan buka puasa dan mempercepat sahur. Maka mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah. Oleh karena itu, sedikit sekali kebaikan mereka dan lebih banyak kejelekan pada diri mereka.

Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar bahwa Rasulullah bersabda,

Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim)

Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya.

5.3 Sahur

5.3.1 Hikmahnya

Setelah mewajibkan berpuasa dengan waktu dan hukum yang sama dengan yang berlaku bagi orang-orang sebelum mereka, maka Allah mensyariatkan sahur atas kaum muslimin dalam rangka membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Abu Sa'id al-Khudriy:

Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur. (Riwayat Muslim).

5.3.2 Keutamaannya

Keutamaan sahur antara lain:

1. Sahur adalah berkah sebagaimana sabda Rasulullah:

Sesungguhnya dia adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka jangan kalian meninggalkannya. (Riwayat an-Nasai dan Ahmad dengan sanad yang sahih)..Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas karena sahur itu mengikuti sunnah dan menguatkan orang yang berpuasa serta menambah semangat untuk menambah puasa dan juga mengandung nilai menyelisihi ahli kitab.

2. Salawat dari Allah dan malaikat bagi orang yang bersahur, sebagaimana yang ada dalam hadits Abu Sa'id al-Khudry bahwa Rasulullah bersabda,

Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur. (Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

5.3.3 Sunnah Mengakhirkannya

Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati subuh (fajar) sebagaimana yang dilakukan Rasulullah di dalam hadits Ibnu Abbas dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,

Kami bersahur bersama Rasulullah , kemudian beliau pergi untuk solat. Aku (Ibnu Abbas) bertanya, Berapa lama antara azan dan sahur? Beliau menjawab, Sekitar 50 ayat. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

5.3.4 Hukumnya

Sahur merupakan sunnah yang muakkad dengan dalil:

a. Perintah dari Rasulullah untuk itu sebagaimana hadits yang terdahulu dan juga sabda beliau :

Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

b. Larangan beliau dari meninggalkannya sebagaimana hadits Abu Sa'id yang terdahulu. Oleh karena itu, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (3/139) menukilkan ijmak atas kesunahannya.

5.4. Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Di dalam puasa ada perkara-perkara yang merusaknya, yang harus dijauhi oleh seorang yang berpuasa pada siang harinya. Perkara-perkara tersebut adalah:

a. Makan dan minum dengan sengaja sebagaimana yang difirmankan Allah :

Dan makanlah dan minumlah kalian sampai jelas baggi kalian benang putih siang dari benang hitam malam dari fajar. (Al-Baqarah, 2:186).

b. Sengaja untuk muntah ( muntah dengan sengaja).

c. Haid dan nifas.

d. Injeksi yang berisi makanan (infus).

e. Bersetubuh.

Kemudian ada perkara-perkara lain yang harus ditinggalkan oleh seorang yang berpuasa, yaitu:

1. Berkata bohong sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang tidak meninggalkan berkata bohong dan beramal dengannya, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum. (Riwayat al-Bukhariy).

2. Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan) sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum. Puasa itu hanyalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah, 'Saya sedang puasa. Saya sedang puasa.' (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

5.5. Perkara-Perkara yang Dibolehkan

Ada beberapa perkara yang dianggap tidak boleh padahal dibolehkan, di antaranya:

a. Orang yang junub sampai datang waktu fajar sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata:

Sesungguhnya Nabi mendapatkan fajar (subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya kemudian mandi dan berpuasa. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

b. Bersiwak.

c. Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika bersuci.

d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda.

e. Injeksi yang bukan berupa makanan.

f. Berbekam.

g. Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.

h. Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.

i. Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.

5.6 Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Berpuasa

Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang mudah. Oleh karena itu, ia memberikan kemudahan dalam puasa ini kepada orang-orang tertentu yang tidak mampu atau sangat sulit untuk berpuasa. Mereka itu adalah sebagai berikut:

1. Musafir (orang yang sedang dalam perjalanan/bepergian ke luar kota).

2. Orang yang sakit.

3. Wanita yang sedang haid atau nifas.

4. Orang yang sudah tua dan wanita yang sudah tua dan lemah.

5. Wanita yang hamil atau menyusui.

5.7. Berbuka Puasa

5.7.1 Waktu berbuka

Berbuka puasa dilakukan pada waktu terbenam matahari dan telah lalu penjelasannya pada pembahasan waktu puasa.

5.7.2. Mempercepat Buka Puasa

Termasuk dalam sunnah puasa adalah mempercepat waktu berbuka dalam rangka mengikuti contoh Rasulullah e dan para sahabatnya sebagaimana yang dikatakan oleh Amr bin Maimun al-Audy bahwa sahabat-sahabat Muhammad saw adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Musannaf nomor 7591 dengan sanad yang disahihkan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary 4/199).

Adapun manfaatnya adalah:

1. Mendapatkan kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Saàd bahwa Rasulullah bersabda,

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya. (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).

2. Merupakan sunnah Nabi .

3. Dalam rangka menyelisihi ahli kitab sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum muslimin) mempercepat buka puasanya karena orang-orang Yahudi dan Kristen (Nashrani) mengakhirkannya. (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan).

Buka puasa dilakukan sebelum solat maghrib karena itu merupakan akhlak para nabi. Sedangkan Rasulullah memotivasi kita untuk berbuka dengan kurma dan kalau tidak ada kurma, maka memakai air. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian beliau e terhadap umatnya.

5.8 Adab Orang yang Berpuasa.

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk beradab dengan adab-adab yang syari, di antaranya:

1. Memperlambat sahur.

2. Mempercepat berbuka puasa.

3. Berdoa ketika berpuasadan ketika berbuka .

4. Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa.

5. Bersiwak.

6. Berderma dan tadarus Alquran.

7. Bersungguh-sungguh dalam beribadah khususnya pada sepuluh hari terakhir.

Demikianlah makalah seputar puasa Ramadhan ini dibuat. Mudah-mudahan dapat berguna bagi saya khususnya dan bagi kaum muslimin umumnya.

Rujukan:
1. Shifat shaum Nabi Oleh Salim Al Hilaly dan Ali Hasan
2. Fatawa Romadhon

Senin, 23 Agustus 2010

Shaum, Proses Menuju Sukses

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan salah). Maka barangsiapa di antara kalian hadir di bulan itu, maka hendaklah ia shaum." (Al-Baqarah: 185).

Kaum muslimin rahimakumullah!
Perintah shaum (puasa) dalam Alquran dikaitkan dengan kepastian target mencapai sukses, "... pasti kalian menjadi orang yang takwa."(Al-Baqarah: 183). Allah SWT menempatkan kata tattaquun dalam bentuk aktif (mudhare) sedang dan akan bertakwa, hal ini menunjukkan bahwa target utama tercapainya ketakwaan seseorang harus melalui proses.

Ketika Ramadhan tiba proses menuju pendewasaan ruhani mulai bergulir; kebiasaan ibadah meningkat, semangat berzikir, salat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas infak, shadaqah begitu kondusif. Menahan lapar, haus, seksual, mulai fajar hingga terbenam matahari dengan tulus dilaluinya. Membaca Alquran sampai khatam (tamat) ditempuh dengan semangat membara. Hal yang wajar jika amaliah di bulan suci Ramadhan begitu spektakuler dilaksanakan kaum muslimin. Inilah proses tercapainya derajat takwa yang akan membawa kepada kesuksesan.

Dewasa ini kita memerlukan generasi-generasi yang sarat dengan mental qur'ani. Mereka adalah yang dengan kesabaran, keikhlasan, ibadah, ihsan, dan keteguhan jiwanya terbentuk melalui proses pembinaan di bulan Ramadhan.

Pendidikan apakah yang diberikan Ramadhan untuk menuju sukses? Di antaranya ialah sabar, ikhlas, ibadah, ihsan, dan istiqamah.

Sabar

Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah ditegaskan. "Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan ganjaran kesabaran adalah surga." Sabar adalah memilih nilai agama dan mengesampingkan hawa nafsu. Di saat tidur lelap kita bangun untuk sahur. Masih terasa kantuk segera mengambil air wudu untuk melaksanakan salat subuh dilanjutkan dengan ta'lim kuliyah subuh. Mata sayu karena kurang tidur, tubuh letih, tetapi dengan kesabarannya dijalani dengan penuh semangat. Inilah pendidikan sabar. "Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian."(Al-Baqaah: 153).

Ikhlas

Kata ikhlas memiliki makna yang erat kaitannya dengan Akidah, ialah melaksanakan aktivitas semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya. Menggantungkan segala kehidupannya hanya kepada Allah. Allahu al-Shamad (Al-Ikhlas: 2). Satu-satunya suat yang dinamai Al-Ikhlas, berbicara tentang tauhid dalam mengesakan-Nya. Puasa di bulan Ramadhan hanya dapat dilaksanakan dengan ikhlas. Karena itu, orang melaksanakan puasa tidak karena riya, dalam puasa keutamaan mengharapkan keridhaan-Nya adalah segala-galanya.

"Waridhwanum minallahi akbar." (At-Taubah: 72).

Ibadah

Ibadah adalah penghambaan diri kepada Allah SWT, pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan begitu semangat dan indah. Demikianlah Ramadhan sarana terbaik dalam melaksanakan pembiasaan ibadah. Ibadah adalah panggilan ruhaniah menuju Ilahi.

"Dan tidaklan aku ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat: 56).

Ihsan

Ihsan ialah berbuat baik yang diimplementasikan dengan sikap meyakini seluruh akitivitasnya disaksikan oleh Yang Maha Agung. Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 177 ditandaskan bahwa ihsan itu adalah memberikan harta yang dicintainya kepada karib kerabatnya, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, orang yang minta-minta dan orang yang dimerdekakan. menyedekahkan harta yang dicintainya merupakan wujud ihsan.

Istiqamah

Istiqamah adalah teguh pendirian, disiplin, tidak tergoyahkan. Di antara ayat kauniyah yg menggambarkan istiqamah, digambarkan dengan ikan yang hidup di laut. Sekalipun air yang ada di laut rasanya asin, tetapi ikan itu tubuhnya tidak ikut asin. Mengapa? karena ikan itu memiliki ruh, karena ia hidup. Apabila ikan itu tidak memiliki ruh, tentu diberi garam ia akan ikut asin; diberi gula ia akan ikut manis; diberi cuka akan asam. Mengapa demikian? karena ia mati. Orang yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan mereka tengah menurunkan ruh Alquran ke dalam jiwanya untuk menuju hidup.

"Dan demikianlah Kami wahyukan (Alquran) kepadamu (Muhammad) untuk menghidupkan hati." (Asy-Syura: 52). Orang yang memiliki ruh Alquran mereka sanggup menunjukkan pribadi disiplin, teguh pendirian.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!
Kelima pendidikan di atas sungguh merupakan proses yang diperoleh pada bulan Ramadhan. Dengan puasa, kelima hal tersebut tumbuh dengan subur pada jiwa setiap hamba Allah yang merindukan keridhaan-Nya. Kelima kualitas ini akan menghantarkan kepada derajat takwa, puncak kesuksesan yang sanggup memeberikan cahaya imani pada kegersangan pribadi, kesombongan, kepongahan, kekuasaan dan pribadi yang cacat.

Oleh: Nandang Koswara, M.Pd. (Pengajar perguruan Darul Hikam, Bandung, Indonesia, dan pemerhati pendidikan)

Memaknai Sebuah Ramadhan

Memaknai Sebuah Ramadhan

Tak terasa, ramadhan telah kembali menyapa kita. Seakan baru saja ia kita tinggalkan, dengan beragam kekurangan dan kealpaan untuk mengisinya, kini ia datang kembali. Pertanyaan yang mungkin menghinggapi setiap kita adalah, apakah yang hendak kita lakukan di ramadhan ini, apakah kita hendak mengulang kekurangan-kekurangan kita di bulan ramadhan yang lalu, dan bagaimana kita memacu ibadah kita di bulan mulia ini.

Tahun lalu bacaan qur'an kita mungkin tak habis dikhatamkan, shalat tarawih kita ,masih bolong-bolong, amalan sunnah kita banyak yang tertinggal dan .........banyak lagi yang belum diperbuat alias terlewatkan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja merupakan bagian dari muhasabah (introspeksi) seorang muslimah untuk tampil lebih baik dalam berislam. Demikian pula dalam hal puasa ramadhan, ketika Allah menjadi satu-satunya tujuan , maka menjadi sebuah keniscayaan untuk tampil prima dalam setiap aktivitas ramadhan.

Ramadhan yang sarat dengan janji pahala dan ampunan adalah sebuah momen yang tak layak untuk disia-siakan begitu saja. Ibarat seorang pedagang yang mengetahui adanya masa untuk meneguk laba yang luar biasa , maka seorang muslim pun akan berlomba untuk meraih laba yang luar biasa . Ia akan memilih dan memilah pula mana barang-barang dagangan yang akan memberikan laba besar ketika ia jual, pun demikian seorang muslim akan berkonsentrasi untuk mengetahui mana aktivitas positif yang akan menyebabkan diraihnya banyak pahala.

Untuk seorang muslimah ada beberapa aktivitas yang pantas menjadi prioritas di dalam meniti bulan ramadhan diantaranya :

  1. Memperbanyak sedekah merupakan sebuah aktivitas yang mulia. Di bulan ramadhan amalan yang satu ini perlu untuk dipacu, sesuai dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam

    "Rasulullah pernah ditanya sedekah apakah yang paling utama ? Beliau menjawab seutama-utamanya sedekah adalah sedekah yang dilakukan di bulan ramadhan"
    (HR. Tirmidzi , baihaqi, dan Ibnu khuzaimah )

    Bahkan nabi sendiri terkenal sebagai orang yang sangat dermawan terlebih-lebih pada bulan ramadhan.

    "Sesungguhnya Rasulullah itu lebih pemurah dibandingkan dengan angin berhembus. Dan terutama lagi di bulan ramadhan"
    (HR. Tirmidzi dalam syamail Muhammadiyah)

  2. Shalat malam berjamaah (tarawih) Berkaitan dengan shalat malam secara berjamaah ini rasul kita menyatakan

    "Barangsiapa yang shalat malam bersama imam hingga selesai shalatnya, akan dituliskan baginya pahala shalat sepenuh malam untuknya"
    (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

    Hadits ini memberitakan tentang keutamaan shalat malam secara berjamaah di bulan ramadhan melebihi shalat malam sendirian yang panjang.

  3. Membaca Al Quran. Nabi kita memperbanyak bacaan Al-qurannya di bulan ramadhan, sementara malaikat jibril menyimak bacaan beliau, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh bukhari. Al Quran yang diturunkan berfungsi sebagai syifa (obat) dan hudan (petunjuk) bagi orang beriman sangat penting untuk kita akrabi. Maka ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memulai mengakrabi Al Quran. Buatkan waktu khusus untuk membacanya di antara kesibukan aktivitas kita yang lain. Dan jangan lupa pelajari pula kandungan isinya dengan tafsir-tafsir yang ada (seperti tafsir ibnu katsiir, tafsir at-tabari, adwaul bayan dan kitab tafsir lain yang ditulis oleh para ulama). Disamping itu praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
  4. I'tikaf. I'tikaf mengandung arti menetap di masjid untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam selalu melakukan aktivitas ibadah ini pada 10 hari yang terakhir di bulan ramadhan hingga wafat beliau. Sebuah hadits tentang i'tikaf ini diriwayatkan oleh Abu hurairah Nabi dahulu beri'tikaf setiap bulan ramadhan selama sepuluh hari . Namun pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri'tikaf selama dua puluh hari (H.R. AL Bukhari). Sunah ini pun dilaksanakan juga oleh istri-istri nabi dan tentu inipun sunnah bagi muslimah, asalkan masih dalam batasan syari'at dan terhindar dari fitnah.
  5. Menjalankan umrah ke (baitullah) masjidil haram Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari:

    "Sesungguhnya ganjaran umrah di bulan ramadhan, sama dengan ganjaran melaksanakan haji bersamaku".

  6. Memperbanyak amalan-amalan akherat Beragam amalan kebajikan perlu untuk dikembangakan, dan disuburkan di bulan ramadhan. Contoh beberapa amalan yang sebaiknya diamalkan di bulan ramadhan adalah, berdo'a, istighfar, mempererat silaturahmi, bertasbih dan setiap amalan yang telah dikenal sebagai amal kebajikan, apakah yang berkaitan dengan individu atau kemasyarakatan. Inilah beberapa aktivitas yang bisa kita kita jadikan prioritas untuk memaknai ibadah ramadhan kita.

Dan akhirnya Al-madina mengucapkan dan mendo'akan semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang mampu keluar dari ramadhan dengan mereguk pahala yang dijanjikan oleh Allah. Amin...

Fatwa-Fatwa Tentang Ramadhan

* Sebagian fatwa Ibnu Taymiyah

Beliau ditanya tentang hukum berkumur dan memasukkan air ke rongga hidung (istinsyaq), bersiwak, mencicipi makanan, muntah, keluar darah, meminyaki rambut dan memakai celak bagi seseorang yang sedang berpuasa;

Jawaban beliau: Adapun berkumur dan memasukkan air ke hidung adalah disyari'atkan, hal ini sesuai dengan kesepakatan para ulama. Nabi shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para shahabatnya juga melakukan hal itu, tetapi beliau berkata kepada Al-laqit bin Shabirah:

"Berlebih-lebihanlah kamu dalam menghirup air ke hidung kecuali jika kamu sedang berpuasa." (HR. Abu Daud, At-tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah)

Nabi shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak melarang istinsyaq bagi orang yang yang berpuasa, tetapi hanya melarang berlebih-lebihan dalam pelaksanaannya saja.

Sedangkan bersiwak adalah boleh, tetapi setelah zawal (matahari condong ke barat) kadar makruhnya diperselisihkan, ada dua pendapat dalam masalah ini dan keduanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad, namun belum ada dalil syar'i yang menunjukkan makruhnya, yang dapat menggugurkan keumuman dalil bolehnya bersiwak.

Mencicipi makanan hukumnya makruh jika tanpa keperluan yang memaksa, tapi tidak membatalkan puasa. Adapun jika sangat perlu, maka hal itu bagaikan berkumur dan boleh hukumnya.

Adapun mengenai hukum muntah-muntah, jika memang disengaja dan dibikin-bikin maka batal puasanya, tetapi jika datang dengan sendirinya tidak membatalkan puasa.

Mengenai hukum keluar darah yang tak dapat dihindari seperti darah istihadhah , luka-luka, mimisan (keluar darah dari hidung) dan lain sebagainya adalah tidak membatalkan puasa sesuai dengan kesepakatan para ulama.

Adapun mengenakan celak (sipat mata) yang tembus sampai ke otak, maka Imam Ahmad dan Malik berpendapat hal itu membatalkan puasa seperti minyak wangi, tetapi Imam Abu Hanifah dan Syafi'i berpendapat hal itu tidak membatalkan.Wallahu A'lam.

Ibnu Taimiyah menambahkan : "Puasa seseorang tidak batal sebab mengenakan celak, injeksi (suntik), zat cair yang diteteskan di saluran air kencing, mengobati luka-luka yang tembus sampai ke otak dan luka tikaman yang tembus ke dalam rongga tubuh." Ini pendapat sebagian ulama." Wallahu A'lam.

* Syaikh Hamd bin Atiq (seorang ulama dari Arab Saudi)

ditanya tentang seorang wanita yang mendapati darah sebelum terbenam matahari, apakah puasanya dinyatakan sah?

Beliau menjawab: Puasanya tidak sempurna pada hari itu

* Syaikh Abdullah Ababathin (ulama dari Nejed, Arab Saudi)

ditanya tentang orang yang berpuasa mendapatkan aroma sesuatu, bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: Semua aroma yang tercium oleh orang yang sedang menunaikan ibadah puasa tidak membatalkan puasanya kecuali bau rokok, jika ia menciumnya dengan sengaja maka batallah puasanya. Tetapi jika asap rokok masuk ke hidungnya tanpa disengaja tidak membatalkan, sebab amat sulit untuk menghindarinya. Wallahu A'lam.

* Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah saw:

"Wahai Rasulullah, saya lupa sehingga makan dan minum, padahal saya sedang berpuasa". Beliau menjawab: "Allah telah memberimu makan dan minum "
(HR. Abu Daud)

Dan dalam riwayat Ad-Daruquthni dengan sanad shohih disebutkan :

"Sempurnakan puasamu dan kamu tidak wajib mengqodho'nya, sesungguhnya Allah telah memberimu makan dan minum", peristiwa itu terjadi pada hari pertama di bulan ramadhan.

* Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah :

"Saya mendapati sholat shubuh dalam keadaan junub, lalu saya berpuasa, bagaimana hukumnya?" Jawab beliau : "Aku juga pernah mendapati shubuh dalam keadaan junub, lantas aku berpuasa." Sahabat itu berkata: "Engkau tidak seperti kami wahai rasulullah, karena Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang lalu ataupun yang belakangan". Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab: "Demi Allah, sungguh aku berharap agar aku menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan paling tahu akan sesuatu yang bisa dijadikan alat bertakwa." ( HR. Muslim )

Sabtu, 21 Agustus 2010

RAMADHAN HIKMAH PUASA BULAN YANG AGUNG

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang telah menjadikan bulan suci Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah saw beserta keluarga dan segenap sahabatnya serta seluruh kaum Muslimin yang mengikutinya. Amma ba'du.

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, sesungguhnya bulan ini adalah bulan yang mulia dan agung. Allah SWT telah mewajibkan kalian agar berpuasa di bulan ini dan mendirikan shalat pada malamnya untuk beribadah (qiyamul lail). Oleh karena itu, setiap orang yang berpuasa hendaknya menyibukkan dirinya sepanjang siang dengan berzikir kepada Allah dan membaca Kitabullah, memberikan santunan kepada yang berhajat, orang lemah dan orang miskin. Telah disebutkan dari Nabi saw bahwa beliau pernah bersabda yang artinya:

"Apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelengu."

Dan sabdanya pula:

"Puasa adalah perisai (tameng), maka apabila kamu sedang menjalani puasa, hendaknya tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan jangan mencaci. Dan jika ada oang yang mencaci katakanlah, 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa', dua kali."

Kaum Muslimin rahimakumullah, keberkatan dan manfaat bulan ini bagi kalian di dunia dan akherat. Adapun manfaat puasa di dunia adalah, dapat memelihara dirimu dari gejolak hawa nafsu yang dapat mencampakkan dirimu ke neraka. Sedang manfaatnya di akhirat adalah, bahwa kalian akan memperoleh ampunan dan maghfirah dari Yang Maha Kuasa lagi Maha Tinggi.

Alangkah bahagianya orang yang ikhlas beramal di bulan Ramadhan karena Tuhannya dan bahagianya orang yang menjauhi peruatan keji dan memegang teguh etika puasa.

Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa amal taqarrub kepada Allah hanyalah akan diterima manakala segala amal perbuatan yang dilarang dan diharamkan oleh-Nya ditinggalkan. Hal ini telah dijelaskan oleh sebuah hadits shahih dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah bersabda:

"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan lagi makanan danminuman yang ia tinggalkan (puasa)."

Dalam hadis lain disebutkan, bahwa ibadah puasa itu bukan hanya sekedar meninggalkan makan dan minum, tetapi juga meninggalakan segala pembicaraan tak berguna dan kata-kata keji. Dalam kitab Musnad disebutkan, bahwa pada zaman Nabi SAW ada dua orang wanita yang menjalani puasa, tiba-tiba mereka dicekam dahaga yang nyaris mencabut nyawanya. Lalu, peristiwa ini diceritakan kepada Rasulullah saw, tetapi beliau berpaling. Kemudian diceritakan lagi perihal kedua wanita ini. Maka, beliau memanggil keduanya dan memerintahkan mereka agar muntah. Ternyata keduanya memuntahkan nanah, darah dan daging busuk sebanyak satu mangkuk. Melihat itu Rasulullah saw besabda:

"Sesungguhnya, kedua wanita ini berpuasa atas apa-apa yang dihalalkan Allah bagi keduanya, tetapi mereka berbuka dengan apa-apa yang diharamkan Allah bagi keduanya. Keduanya duduk-duduk, lalu memakan daging orang lain (mengumpat)."

Kaum Muslimin yang berbahagia, jauhilah olehmu perbuatan mengumpat dan mengadu domba. Takutlah kepada Tuhanmu dan pegang teguhlah amal kebaikan dan kebaktian. Buatlah darimumenjadi orang yang disenangi, dan jangan menjadikan dirimu orang yang dibenci. Kerjakan kebaikan, semoga kalian berbahagia. Allah SWT berfirman yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, besabarlah kamu dankuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

Maasyiral Muslimin rahimakumullah!
Dari pemaparan singkat di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa hendaklah untuk memperoleh keutamaan di bulan Ramadhan, setiap kita dapat menjaga perbutan dari yang terlarang dan giat mengerjakan amal-amal keutamaan sebagai wujud bakti kita kepada Allah SWT.
Semoga amalan-amalan kebaikan dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT serta diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, amin!

Sumber: Khutbah Jumat Masjidil Haram, Syekh Abdullah Ibnu Muhammad al-Khulaifi, Khatib dan Imam Masjidil Haram

RAMADHAN HIKMAH PUASA

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia." (Qashas: 77).

Hikmah yang diperoleh dari ajaran berpuasa Ramadan, nilai kesalehan selalu berada pada jaringan sosial masyarakat, dilandasi oleh kualitas iman dan takwa. Sehingga, dalam kalbu kita tumbuh pribadi yang kuat, senantiasa ikhlas beramal dan bukan pribadi yang selalu menjadi beban orang lain.

Kondisi sekarang, kesalehan sosial yang berwujud rasa peduli terhadap merebaknya kemiskinan, terlihat jelas konteksnya. Seperti tidak menentunya kondisi perekonomian rakyat, anjloknya nilai rupiah, yang dirasakan pahit bagi masyarakat golongan bawah. Situasi perekonomian yang tidak jelas juntrungnya di berbagai aspek kehidupan, menumbuhkan nafsu egoistis di kalangan masyarakat tingkat menengah ke atas, menjauhkan diri dari nilai-nilai kemanusiaan, menggiringnya ke sikap apatisme.

Esensi ajaran Islam tidak mengajarkan manusia bersikap masa bodoh terhadap masyarakat lingkungan, lebih-lebih terhadap mereka yang hidup kekurangan dan miskin. Islam tidak boleh membiarkan umatnya hidup serba kekurangan, melainkan dijadikan manusia itu menjadi mahluk yang hidup dalam keseimbangan antara keperluan duniawiyah dan ukhrawiyah.

Karena itu, hikmah puasa Ramadan secara kondusif melahirkan dua dimensi keberkahan kehidupan dunia dan akhirat. Secara fisik, dengan berpuasa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu sekularitas, hedonistis, egoistis maupun sikap hidup kompetitif konsumtif, agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat dan nikmat dari Allah SWT. Mereka harus menahan rasa lapar dan haus, tidak melakukan hubungan badan dengan istri dari waktu fajar hingga matahari tenggelam di petang hari, serta tidak melakukan perbuatan jahat, tidak mengeluarkan kata-kata kotor, menahan emosi dan nafsu amarah serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Secara psikologis, seseorang yang berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus, yang selama itu lebih banyak diderita oleh fakir miskin, yang dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan.

Esensi puasa Ramadan juga memberikan nilai ajaran, agar orang yang beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw, yang hidupnya amat sederhana dan selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya. Beliau menganjurkan kepada umat Islam, "berhentilah kamu makan sebelum kenyang." Contoh sederhana tsb mudah didengar, tapi terasa berat dilaksanakan, jika seseorang tengah bersantap dengan makanan lezat. Memang, itulah tuntunan yang memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap lingkungan masyarakat miskin yang berada di lingkungannya.

Di bagian lain, Nabi saw mencontohkan, "berbuka puasalah kamu dengan tiga butir kurma dan seteguk air minum, setelah itu bersegeralah salat magrib." Kaitannya dengan itu, Nabi Saw menganjurkan agar selalu gemar memberi makan (berbuka) untuk tetangga yang miskin.

Fenomena kesadaran fitrah di atas, dalam puasa Ramadan saat ini, diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral untuk memihak kepada kaum dhuafa, fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh, mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh'afin. Seperti dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak, masyarakat kecil dan golongan lemah yang tertindas dengan membangkitkan 'harga diri' dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka, dalam kondisi sama-sama lapar, tidur di atas pelepah daun kurma.

Begitu dekatnya Nabi Saw dengan orang-orang miskin, sampai-sampai beliau mendapat julukan Abul Masakin (Bapak orang miskin). Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap keberadaan dirinya, beliau menjawab, "carilah aku di tengah orang-orang yang lemah di antara kalian." Isyarat yang diberikan Nabi Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki, Hilmi H. Isyik mengatakan, "Orang yang bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin di sekitarnya, tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yang baik."

Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi Saw yang maksudnya, setiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman, ibadah dan akhlak. Kalau hal itu terabaikan, amal atau muamalat duniawi akan menyimpang, tidak terkontrol, nafsu kemurkaannya tidak terkendali, sehingga orang akan berperilaku sekehendaknya sendiri, tanpa memperdulikan lingkungan dan penderitaan orang lain. Dampaknya, dapat menghancurkan sikap toleransi dan solidaritas sesama umat Muslim.

Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa tidak merasa terlibat dengan permasalahan umat Islam, dia bukanlah dari golonganku." Ini jelas memperingatkan, permasalahan umat Muhammad yang tumbuh di dunia bukan hanya ibadah salat dan puasa saja, juga luluh ke dalam nasib penderitaan sesama umat.

Konteksnya dengan puasa Ramadan, Nabi saw menegaskan, "begitu banyak orang berpuasa, tapi yang dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata."

Sabda ini mengandung arti, hikmah puasa Ramadan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, menahan nafsu dan keinginan hedonistis, melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani amat yang dalam, yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid, di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri, meluruskan disiplin pribadi dengan baik.

Semua rangkuman di atas merupakan intisari dari firman Allah Swt, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kami, agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183).

Di sinilah kekuatan iman dan takwa seorang Muslim, diuji. Sehingga, jelas nilai takwa seorang Muslim terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan duniawi, sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan.

Allah Swt berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia." (QS. Qashas : 77).

Dari sana pula pendekatan yang fleksibel sesama umat dijalin dengan batas pengertian tertentu, yakni berpegang pada pokok akidah yang kita yakini, sehingga upaya mengangkat kemiskinan terwujud dengan semangat kebersamaan dan solidaritas yang tinggi dalam implementasi wadah puasa Ramadan yang penuh rahmat, ampunan dan barakah.

Jumat, 20 Agustus 2010

MANHAJ SALAF

1. Ahlussunnah dalam menjalankan agama hanya berdasar pada Al Kitab dan assunnah. Cirinya yaitu dengan mendahulukan apa yang difirmankan Allah atas ucapan seluruh manusia, dan mendahulukan petunjuk Rasulullah atas seluruh petunjuk lainnya serta mengikuti jejak beliau secara lahir dan bathin. Banyak sekali kok ayat dan hadist yang menyatakan tentang masalah ini.

2. Ahlussunnah dalam memahami agama (al-Qur''an dan Hadist) hanya berdasarkan pemahaman para salafush shalih bukan atas pemahaman nafsu golongan atau pribadi. Semua dikembalikan kepada pemahaman mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziah (kamu tahu khan siapa beliau ? Ulama besar murid terkasih Ibnu Taimiyah !Umat bilang beliau seorang dokter hati) berkata, Sesungguhnya pengambilan dalil yang terbaik atas makna ayat-ayat Al Qur''an adalah dengan cara mengambil apa yang telah diriwayatkan oleh orang-orang tsiqat (terpercaya) dari Rasulullah kemudian mengikuti apa-apa yang telah dijelaskan oleh para sahabat, tabi''in dan Aimatul Huda (para imam).

3. Dakwah ahlussunnah adalah dakwah yang gampang dan mudah, ia dapat diterima siapa saja dan dimana saja, dengan mendasarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah dan dilaksanakan para sahabat. Coba lihat sabda baginda Rasulullah, Sesungguhnya dien (agama) ini mudah, tidaklah sesorang itu berlebihan dalam menjalankan agama melainkan pasti akan kesulitan sendiri. (HR. Bukhari). Dengan berdasar pada sabda baginda ini ahlussunnah hanya menjalankan apa yang diajarkan Rasuullah dengan tanpa menambah atau menguranginya (berlebihan). Ajaran inilah yang merupakan ajaran paling gampang dan mudah dilaksanakan serta sesuai dengan fitrah manusia. Semuanya bersih dari kesemrawutan, berlebihan atau menyepelekan. Ahlussunnah selalu berada di tengah-tengah yaitu tidak berlebihan dan tidak pula menyepelekan.

Mengamalkan seluruh ajaran agama ini dan beristiqamah di dalamnya baik berupa aqidah, pemikiran, akhlak, ucapan, dan semuanya. Selalu berusaha menentang dan menjauhi setiap apa yang tidak sesuai dengan apa-apa yang dipahami oleh para salafush shalih.

Berdakwah kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan faktor-faktor tertentu atau tingkatan-tingkatan manusia. Jadi ahlussunnah bukanlah dakwah golongan tapi dakwah finaas bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali, sebagaimana firman Allah dalam surat Saba'' : 38 berikut ini,

Dan kami tidak mengutus kamu melainkan untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.(Saba'' :38)

Nah, dari semua yang sudah dijelaskan di atas tentunya sekarang antum sudah bisa mengenali siapa ahlussunnah itu. Banyak orang yang mungkin akan mengatakan ahlussunnah sebagai orang yang fanatik, kolot, ketinggalan jaman, fundamentalis, ortodoks dsb... mungkin bisa dijawab, Ya memang... karena ahlussunnah akan selalu berusaha menjalankan agama ini sebaik-baiknya dalam seluruh segi kehidupan. Ahlussunnah paling anti maksiat dan paling getol ketaqwaan....ia tidak takut apapun kecuali hanya takut kepada Allah semata.

Padahal kalau kita mau belajar yang namanya kata-kata fanatik, kolot, ketinggalan jaman, fundamentalis atau yang lainnya itu nggak ada di dalam islam. Islam sudah jelas menyuruh manusia menjalankan setiap detik hidupnya untuk beribadah (dalam arti luas). Dengan demikian artinya mau tidak mau umat islam harus menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Nah kalau kita mau menjalankan setiap perintah kemudian dibilang seperti itu, bagaimana ? kita beragama mau menjalankan yang mana ? Ada orang rajin shalat jama''ah dibilang fanatik, nggak mau jabat tangan cowok-cewek fanatik, nggak mau ke bioskop fanatik. Nah terus bagaimana yang nggak fanatik ? Jelas sekali memang semua itu nggak dibolehkan dalam islam... apakah kita mau menjalankan syari''at terus malah dibilang fanatik. Apa ini rasional ?


Istilah Assunnah atau umum disebut ahlussunnah menurut para imam yaitu thariqah atau jalan hidup Nabi shalallahu alaihi wa ssalam di mana beliau dan para sahabatnya berada di atasnya, yang selamat dari syubhat dan syahwat.

Oleh karena itu Al Fudhail bin Iyadh menyatakan, Ahlus Sunnah itu orang yang paling mengetahui apa yang masuk dalam perutnya dari makanan yang halal.. Dan Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, ....dari Abu Sufyan ats-Tsauri ia berkata, Berbuat baiklah pada ahlus sunnah karena mereka itu adalah ghuraba (asing).
Al Imam Ibnul Jauzi mengatakan, ...Tidak diragukan lagi bahwa ahli aqli dan atsar pengikut atsar sahabat Rasulullah dan atsar para sahabatnya, mereka itulah ahlus sunnah.

Dengan demikian dapat diartikan kata ahlus sunnah mengandung 2 makna yaitu :

1. Mengikuti sunnah-sunnah atau atsar-atsar yang datangnya dari Rasululah dan para sahabat ra, menekuni, memisahkan yang shahih dari yang cacat dan melaksanakan apa yang diwajibkan dari perkataan dan perbuatan dalam masalah aqidah mapun hukumnya.

2. Secara khusus dikatakan para ulama Assunnah sebagai i''tiqad shahih yang ditetapkan dengan nash dan ijma''

Imam Malik secara khusus memberikan pengertian tentang Ahlus sunnah yaitu...ahlus sunnah itu adalah mereka yang tidak mempunyai laqab yang sudah terkenal yakni bukan Jahmi, Qadari dan bukan pula Rafidhi ...

Trus apa makna Al-jama''ah ?

Al-Jamaa''ah dapat di artikan sebagai berikut :
- Jamaah itu sekelompok manusia atau kelompok terbesar dari pemeluk islam
- Para imam mujtahid
- Para sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam
- Jamaa''ah kaum muslimin jika sepakat pada suatu perkara
- Jama''ah kaum muslimin yang sepakat jika mengangkat amir

atau secara khusus jama''ah yang ahlussunnah merupakan jama''ah yang melakukan ittiba (pengikutan kepada Nabi) dan meninggalkan ibtida'' (perkara baru dalam agama) dan ini adalah madzab yang haq atau benar. Maka wajib di ikuti dan dijalani.


Orang salaf selalu berusaha mencocokkan setiap amal ibadah maupun pemahaman dengan apa yang telah dilakukan para shalafush shalih. Bukan berarti tidak mengenal ijtihad. Jangan keliru...! Justru salaf senantiasa berusaha memecahkan setiap masalah dengan dasar pertimbangan Al-Qur''an, Hadist, ijma sahabat, penjelasan tabi'in, tabi'ut tabi'in, baru kemudian bila dari sana tidak/belum dijumpai maka para salaf akan melakukan ijtihad tapi dengan tetap sangat hati-hati dan mempelajari dahulu dengan mendalam.

Nah jadi kita-kita ini kalau mengikuti jejak mereka berarti kita termasuk orang-orang salaf yaitu orang yang mengikuti dan memahami agama dengan berdasarkan pemahaman mereka.


------------------------------------------------------
Shalafush shalih artinya orang-orang terdahulu yang shalih dari mulai Rasulullah dan kalangan sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, para imam muslimin serta setiap orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.
Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI