Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Kamis, 01 Maret 2012

KAPAN WAKTU BERDOA?
























Pertanyaan
Saya sudah memahami bahwa setelah shalat wajib, disambung dengan dzikir-dzikir, bukan dengan doa. Lantas kapan waktunya bila kita hendak berdoa khusus, misalnya mendoakan kedua orang tua, mendoakan anak, dan doa-doa lain yang kita kehendaki.

Ada yang mengatakan bahwa pada saat shalat itulah kita sedekat-dekatnya dengan Allah, maka saat itulah kita dapat berdoa.

Bolehkah setelah selesai shalat wajib dan dzikir kita niatkan untuk berdoa kepada Allah meskipun saat itu masih berada di tempat shalat?

Jawaban
Memang yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai amalan setelah selesai shalat adalah dzikir dan wirid. Belum diketahui bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam setiap selesai shalat berdoa dengan doa tertentu. Akan tetapi, dengan rahmat Allah yang maha luas, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kemudahan kepada kita untuk meminta kapan saja dan akan dikabulkan, tentu dengan syarat-syarat tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabb-mu berfirman: "Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". [al Mu`min : 60]

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [al Baqarah : 186]

Allah juga memberikan keterangan waktu-waktu yang mustajabah, keadaan dan kondisi yang baik serta tempat-tempat mulia, yang apabila digunakan untuk berdoa akan menjadi sebab dikabulkan doa kita.
Waktu-waktu mustajabah itu di antaranya :

1. Untuk pertahunnya, yaitu do’a di hari Arafah, waktu-waktu di al Masy’aril Haram bagi haji, malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

2. Untuk perbulannya, yaitu bulan Ramadhan, terlebih pada sepuluh hari terakhir.

3. Untuk perpekannya, yaitu hari Jum’at antara duduk imam di atas mimbar sampai selesai shalat, satu waktu pada hari Jum’at dan ada yang menyatakan pada akhir waktu Ashar hari Jum’at.

4. Untuk perharinya, yaitu pada waktu menjelang fajar, sepertiga akhir malam.

Adapun keadaan dan kondisi yang dianjurkan untuk berdoa, di antaranya ialah : doa ketika para mujahidin bertempur di jalan Allah, ketika turun hujan, setelah wudhu, ketika adzan, antara adzan dan iqamah, ketika iqamah shalat wajib, keadaan sujud, ujung (akhir setiap shalat wajib), saat sedang berpuasa, ketika berbuka, doa orang yang berhaji sampai pulang, doa orang terzhalimi, doa imam yang adil, setelah membaca al Qur`an, dalam majlis ilmu, dan lainnya.[1]

Ini semua dapat digunakan untuk mendoakan kedua orang tua, mendoakan anak dan doa apa saja sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan keadaan seorang hamba yang terdekat dengan Allah, yaitu waktu sujud. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan, keadaan tersebut termasuk sarana dikabukan doa kita, seperti diriwayatkan Imam Muslim dan an Nasa-i, dari hadits Abdullah bin Abbas, beliau berkata:

كَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السِّتَارَةَ وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَمْ يَبْقَ مِنْ مُبَشِّرَاتِ النُّبُوَّةِ إِلَّا الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ يَرَاهَا الْمُسْلِمُ أَوْ تُرَى لَهُ ثُمَّ قَالَ أَلَا إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ قَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuka sitar dan orang-orang berbaris di belakang Abu bakar. Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : “Wahai manusia, sungguh tidak sisa dari berita kenabian kecuali mimpi yang bagus yang dilihat seorang muslim atau terlihat,” kemudian (beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata,”Ketahuilah, aku dilarang membaca al Qur`an dalam keadaan ruku’ dan sujud. Adapun ruku’, maka agungkanlah Rabb kalian; sedangkan sujud, maka bersungguh-sungguhlah memperbanyak doa, karena pantas untuk dikabulkan.”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari kitab Tashhih ad Do’a, karya Bakar bin Abdillah Abu Zaid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI