Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Jumat, 01 April 2011

BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (Bag III) : AQIDAH ASMA’ WASSHIFAT ALLAH YANG DIANUT IBNU KATSIR DALAM TAFSIRNYA


AQIDAH ASMA’ WASSHIFAT ALLAH YANG DIANUT IBNU KATSIR DALAM TAFSIRNYA
(BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (bagian ke-3))

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada teladan yang mulya, manusia terbaik, Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam….

Pada bagian ke-3 ini, akan dijelaskan tentang ‘aqidah Asma’ Was Shifat Ibnu Katsir ( Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir alQurasyi adDimasyqi) – salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- dalam kitab tafsirnya : Tafsir al-Qur’aanil ‘Adzhiim yang dikenal luas dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir. Sesungguhnya Ibnu Katsir memiliki pemahaman yang sama dengan gurunya, Ibnu Taimiyyah tentang Asma’ Was Sifat Allah. Pemahaman tersebut bukanlah pemahaman baru. Namun, pemahaman yang sama dengan aqidah Ahlussunnah dari sejak para Sahabat Nabi, tabi’in, dan seterusnya diwariskan oleh para Imam Ahlussunnah.

Syubhat

Terdapat dalam salah satu blog penentang dakwah Ahlussunnah suatu tulisan sebagai berikut :

[[ Aqidah Ibnu Katsir tidak sama dengan Ibnu Taimiyyah Dan Ibnu Qayyim

lihat Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Lainnya :

Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir Ibnu Katsir:

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat (bentuk) dan penyamaan

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy yaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. sebenarnya memahami makna istiwa ini sebenarnya ]]

Bantahan

Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat Al-A’raaf ayat 54

Benarkah aqidah Ibnu Katsir tidak sama dengan Ibnu Taimiyyah? Mari kita kaji tulisan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tersebut. Ketika menafsirkan AlQur’an surat al-A’raaf ayat 54, akan terlihat jelas bagaimana pemahaman beliau tersebut. Beliau menyatakan :

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري، والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [ الشورى:11 ] بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل

” Adapun makna firman Allah Ta’ala : (yang artinya) : ‘Kemudian Dia (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy’. Maka manusia dalam hal ini terbagi dalam (perbedaan) pendapat yang sangat banyak. Bukanlah di sini tempat menjabarkannya. Sesungguhnya (jalan yang seharusnya ditempuh) adalah madzhab as-Salafus Sholih : Maalik, al-’Auzaa-i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, asy-Syaafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Raahuyah, dan yang selain mereka dari para Imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang sekarang, yaitu : menetapkannya sebagaimana adanya, tanpa takyiif (menetukan/menanyakan kaifiyyatnya), tidak menyerupakan, dan tidak pula menolak (ta’thiil). Pemikiran yang tergambar dalam benak orang-orang yang menyerupakan Allah (dengan makhluk) ditiadakan dari Allah. Karena sesungguhnya tidak ada suatu makhlukpun yang serupa dengan Allah, dan : { Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Allah, dan Dialah (Allah) Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S Asy-Syuura:11) }. Bahkan, seperti yang diucapkan oleh para Imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad -salah seorang guru Imam al-Bukhari- berkata : “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya maka dia telah kafir, barangsiapa yang mengingkari segala yang telah Allah Sifatkan untuk diri-Nya maka dia kafir”, dan segala yang telah Allah Sifatkan diriNya maupun yang disifatkan oleh Rasulullah (untuk Allah) bukanlah penyerupaan (tasybih), barangsiapa yang menetapkan untuk Allah Ta’ala berdasarkan ayat – ayat yang jelas dan khabar-khabar (hadits) yang shohih, sesuai dengan Keagungan Allah Ta’ala, dan meniadakan kekurangan dari-Nya, maka dia telah menempuh jalan petunjuk”

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 426).

Dari penjelasan Ibnu Katsir tersebut jelaslah bahwa :

1. ‘Aqidah Ibnu Katsir sama dengan aqidah Ibnu Taimiyyah.
Dalam menafsirkan ayat tersebut Ibnu Katsir menyatakan bahwa Aqidah Salafus Sholeh (yang seharusnya diikuti) dalam Asma’ WasSifat Allah adalah :

menetapkannya sebagaimana adanya, tanpa takyiif (menanyakan/menentukan kaifiyyatnya), tidak menyerupakan, dan tidak pula menolak (ta’thiil)

sedangkan Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam kitab arRisaalah atTadmuriyah halaman 4:

فالأصل في هذا الباب أن يوصف الله بما وصف به نفسه، وبما وصفته به رسله، نفيا وإثباتا، فيثبت لله ما أثبته لنفسه، وينفي عنه ما نفاه عن نفسه وقد علم أن طريقة سلف الأمة وأئمتها إثبات ما أثبته من الصفات من غير تكييف ولا تمثيل ومن غير تحريف ولا تعطيل وكذلك ينفون عنه ما نفاه عن نفسه

” Landasan utama dalam pembahasan ini adalah mensifatkan Allah sesuai dengan yang Allah sifatkan Dirinya dengan Sifat tersebut, dan dengan yang disifatkan oleh Rasul-Nya, baik dalam bentuk peniadaan ataupun penetapan. Maka ditetapkan untuk Allah sesuatu yang Allah tetapkan untuk DiriNya, dan meniadakan dari Allah sesuatu yang Allah tiadakan dari DiriNya. Telah diketahui bahwa metode Salaful Ummah dan para Imamnya adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan, tanpa takyiif, tidak pula tamtsiil, tanpa tahriif (menyimpangkan lafadz/maknanya), dan tidak pula menolak (ta’thiil). Demikian juga (para Imam tersebut) meniadakan apa yang Allah tiadakan terhadap DiriNya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan dalam kitab al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubro halaman 16 :

ومذهب السلف: أنهم يصفون الله بما وصف به نفسه وبما وصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل

” dan madzhab Salaf bahwasanya mereka mensifatkan Allah dengan apa yang Allah Sifatkan Dirinya, dan dengan apa yang RasulNya sifatkan tanpa tahrif (menyimpangkan lafadz/makna), tidak pula menolak, tanpa takyiif, dan tidak pula menyerupakan (dengan makhluk).

Pernyataan Ibnu Taimiyyah semacam ini bisa dilihat dalam kitab-kitab beliau yang lain semisal al-Aqiidah al-Wasithiyyah, Minhaajus Sunnah anNabawiyyah juz 3 halaman 129, Bayaanu Talbiis al-Jahmiyyah juz 2 halaman 40.

2. Aqidah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir tersebut adalah aqidah para Ulama’ Salaf.

Dalam penjelasan surat Al A’raaf ayat 54 tersebut, Ibnu Katsir menyatakan beberapa contoh Ulama’ terdahulu yang dijadikan sebagai rujukan, di antaranya :Imam Malik dan Ishaq bin Raahuyah. Kita akan lihat bagaimana penjelasan Imam Maalik dan Ishaq bin Raahuyah tersebut.

Imam Maalik menyatakan :

الإستواء معلوم والكيف مجهول والايمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“al-Istiwaa’ sudah diketahui (dipahami maknanya secara bahasa Arab), kaifiyatnya tidak diketahui, beriman terhadapnya adalah wajib, dan menanyakan tentang kaifiyatnya adalah bid’ah (Lihat Tadzkirotul Huffadz juz 1 halaman 209).

Ishaaq bin Raahuyah (dikenal juga sebagai Ishaaq bin Ibrahim) –salah seorang guru Imam al-Bukhari- menyatakan :

إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابهِ

{ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

“Hanyalah dikatakan sebagai sikap penyerupaan (Allah dengan makhluk,pent) adalah jika seseorang menyatakan tangan (Allah) bagaikan tangan (makhluk), atau seperti tangan (makhluk), pendengaran (Allah) seperti (pendengaran) makhluk. Jika menyatakan bahwa pendengaran (Allah) seperti pendengaran (makhluk), maka itu adalah sikap penyerupaan. Adapun jika seseorang berkata sebagaimana perkataan Allah : Tangan, Pendengaran, Penglihatan, dan tidak menyatakan ‘bagaimana’ (kaifiyatnya), dan tidak mengatakan seperti pendengaran (makhluk), maka yang demikian ini bukanlah penyerupaan. Yang demikian ini adalah sebagaimana yang Allah nyatakan dalam KitabNya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada yang semisal denganNya suatu apapun, dan Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Lihat Sunan AtTirmidzi bab Maa Jaa-a fi fadhli as-Shodaqoh juz 3 halaman 71).

Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat AlBaqoroh ayat 210

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan”(Q.S al-Baqoroh:210).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya :

وقال أبو جعفر الرازي، عن الربيع بن أنس، عن أبي العالية: { هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلائِكَةُ } يقول: والملائكة يجيئون في ظلل من الغمام، والله تعالى يجيء فيما يشاء

” dan berkata Abu Ja’far arRaazi dari arRabii’ bin Anas dari Abul ‘Aliyah : ( Q.S al-Baqoroh : 210 tsb) ” dan para Malaikat datang dalam naungan awan, dan Allah Ta’ala datang sesuai dengan kehendakNya”

Di dalam tafsir ayat tersebut Ibnu Katsir menukil pendapat Abul ‘Aliyah. Abul ‘Aliyah (nama aslinya adalah Rufai’ bin Mihran) adalah seorang Tabi’in murid dari beberapa Sahabat Nabi di antaranya : Umar bin alKhottob, Ali bin Abi Tholib, Ubay bin Ka’ab, Abu Dzar al-Ghiffary, Ibnu Mas’ud, ‘Aisyah, Abu Musa, Abu Ayyub, Ibnu Abbas, dan Zaid bin Tsabit (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 4 halaman 207). Perhatikanlah bahwa Abul ‘Aliyah menetapkan sifat ‘datang’ bagi Allah pada hari kiamat nanti sebagaimana yang Allah tetapkan dalam ayatNya tersebut tanpa melakukan tahrif (memalingkan) makna atau lafadznya seperti yang dilakukan golongan al-Asya-iroh (Asy-‘ariyyah). Pendapat Abul ‘Aliyah inilah yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sekaligus sebagai pemahaman beliau terhadap Asma’ WasSifat Allah.

Tafsir Ibnu Katsir Surat ArRahmaan ayat 26-27

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)

Ibnu Katsir menyatakan :

وقد نعت تعالى وجهه الكريم في هذه الآية الكريمة بأنه ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

” dan sungguh Allah Ta’ala telah mensifatkan WajahNya Yang Mulya di dalam ayat yang mulya ini sebagai ‘yang memiliki keagungan dan kemulyaan’

Di dalam tafsirnya tentang ayat ini Ibnu Katsir telah menetapkan Wajah bagi Allah, karena memang Allah sendiri yang menetapkannya dalam AlQur’an. Beliau tidak menolak, memalingkan maknanya, melakukan takyiif (menentukan/menayakan kaifiyatnya), ataupun menyamakannya dengan makhluk.

Tafsir Ibnu Katsir Surat al-Fajr ayat 22

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا (الفجر:22)

” dan datanglah TuhanMu sedang malaikat berbaris-baris”

Ibnu Katsir menyatakan :

وَجَاءَ رَبُّكَ يعني: لفصل القضاء بين خلقه

” dan datanglah Tuhanmu, yaitu : untuk mengadili para makhlukNya”

Dalam tafsir ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah datang secara hakikat. Beliau tidak melakukan tahrif, tidak pula takyiif, ta’thiil, dan tasybiih.

Tafsir Ibnu Katsir Surat AdzDzaariyaat ayat 47

Sebagian orang menganggap Ibnu Katsir berpemahaman Asy’ariyyah karena menafsirkan ayat ini berdasarkan penjelasan Sahabat Nabi Ibnu Abbas. Dalam ayat ini Allah berfirman :

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya Kami benar-benar memperluasnya”

Ibnu Katsir menyatakan di dalam tafsirnya bahwa makna بِأَيْدٍ artinya adalah ‘dengan kekuatan’ sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, Qotadah, atsTsaury dan selainnya.

Penafsiran ini dianggap sebagai pembenaran terhadap metode al-Asyaa-iroh (Asy’ariyyah) yang mentakwil ayat-ayat tentang Sifat Allah. Mereka menganggap kata بِأَيْدٍ adalah bentuk jamak dari kata يَدٌ yang berarti ‘tangan’. Padahal persangkaan itu adalah keliru.

Syaikh AsySyinqithy menjelaskan di dalam kitab tafsirnya Adl-waaul Bayaan:

قوله تعالى في هذه الآية الكريمة { بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } ، ليس من آيات الصفات المعروفة بهذا الاسم ، لأن قوله { بِأَيْدٍ } ليس جمع يد : وإنما الأيد القوة ، فوزن قوله هنا بأيد فعل ، ووزن الأيدي أفعل ، فالهمزة في قوله { بأَيْدٍ } في مكان الفاء والياء في مكان العين ، والدال في مكان اللام . ولو كان قوله تعالى : { بأَيْدٍ } جمع يد لكان وزنه أفعلاً ، فتكون الهمزة زائدة والياء في مكان الفاء ، والدال في مكان العين والياء المحذوفة لكونه منقوصاً هي اللام . والأيد ، والآد في لغة العرب بمعنى القوة ، ورجل أيد قوي ، ومنه قوله تعالى { وَأَيَّدْنَاهُ بروح القدس } [ البقرة : 87 و 253 ] أي قويناه به ، فمن ظن أنها جمع يد في هذه الآية فقد غلط غلطاً فاشحاً

” Firman Allah di dalam ayat yang mulya ini : { بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } bukanlah termasuk ayat-ayat tentang Sifat yang dikenal dengan isim (kata benda) ini. Karena kata بِأَيْدٍ bukanlah bentuk jamak dari يد (tangan). Sesungguhnya ia adalah (dari kata) الأيد yang berarti kekuatan. Maka wazan بِأَيْد di sini adalah فَعَلَ dan wazan الأيدي adalah أَفْعَلَ . Sehingga huruf hamzah dalam kata بِأَيْد menempati posisi fa’, ya’ pada posisi ‘ain, dan dal pada posisi lam. Kalau seandainya بِأَيْد jama’ dari يد maka wazannya adalah أفعلاً sehingga hamzah tambahan dan ya’ pada posisi fa’, dal pada posisi ‘ain, dan ya’ dibuang karena keberadaannya manqush pada posisi lam. Dalam bahasa Arab الأيد dan الآد bermakna kekuatan. (Seperti ucapan seseorang) ورجل أيد قوي, di antara (penggunaan kata ini) adalah dalam firman Allah :

وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

” dan Kami kuatkan ia dengan Ruhul Qudus” (Q.S AlBaqoroh ayat 87 dan 253).

Maknanya adalah ‘Kami kuatkan ia dengannya’. Barangsiapa yang menyangka bahwa kata tersebut adalah bentuk jamak dari ‘tangan’ pada ayat ini, maka ia telah salah dengan kesalahan yang melampaui batas ( Lihat Tafsir Adlwaa-ul Bayaan juz 8 halaman 11).

Dari sini nampak jelaslah kesalahan dari tulisan yang ada di salah satu blog penentang Ahlussunnah pada tulisannya :

[[ Kemudian mengenai lafadz mutasyabihat biaidin (dengan tangan)

Artinya : " Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(bi aidin = Kekuasaan) Kami…." (Qs adzariyat ayat 47) ]]

sehingga penulis dalam blog penentang Ahlussunnah tersebut mengira Ibnu Katsir telah melakukan takwil terhadap ayat Sifat.

Demikianlah saudaraku kaum muslimin, dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya berpedoman dengan manhaj Salafus Sholeh dalam memahami ayat-ayat tentang Nama dan Sifat-Sifat Allah. Pemahaman beliau ini sama dengan pemahaman gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang sebenarnya pemahaman tersebut bukanlah manhaj baru. Bukanlah pemahaman yang diada-adakan oleh Ibnu Taimiyyah, namun pemahaman para Imam Ahlussunnah. Telah dikemukakan di atas ucapan-ucapan dari para Imam tersebut di antaranya Abul ‘Aliyah (seorang tabi’i murid para Sahabat Nabi), Imam Maalik (guru Imam AsySyaafi’i), Ishaq bin Raahuyah dan Nu’aim bin Hammad (dua-duanya adalah guru Imam al-Bukhari).

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua………………..

Ditulis Oleh : Abu Utsman Kharisman untuk situs www.darussalaf.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI