Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Minggu, 27 November 2011

NABI MEMAKRUHKAN SEORANG SUAMI MEMANGGIL ISTERINYA: “WAHAI SAUDARIKU”.

Oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Tamimah al-Hujaimi, bahwa seorang pria berkata kepada isterinya, "Wahai saudariku." Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah dia saudara perempuanmu?" Beliau tidak menyukai hal itu dan melarangnya. [1]

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan: “Ibrahim Alaihissalam tidak pernah berdusta [2] kecuali dengan tiga kedustaan, dua di antaranya dilakukan kerena Allah Azza wa Jalla [3], yaitu ucapannya: "Sesungguhnya aku sakit"’(Ash-Shaaffaat: 89). dan ucapannya: "Bahkan yang terbesar dari mereka inilah yang melakukannya" (Al-Anbiyaa’: 63). Ia (Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu) melanjutkan: “Ketika Ibrahim pada suatu hari beserta Sarah, tiba-tiba seseorang datang kepada salah seorang penguasa untuk melaporkan kepadanya: ‘Sesungguhnya di sini ada seorang pria bersama seorang wanita yang paling cantik.’ Mendengar laporan itu, dia meminta Ibrahim menghadapnya lalu bertanya kepadanya tentang wanita tersebut, maka ia menjawab: ‘Saudariku.’ Kemudian Ibrahim datang kepada Sarah seraya mengatakan: ‘Wahai Sarah, tidak ada di permukaan bumi ini seorang mukmin pun selain aku dan dirimu. Sesungguhnya orang ini bertanya kepadaku tentangmu, maka aku mengabarkan kepadanya bahwa engkau adalah saudariku, maka janganlah engkau mendustakanku." Sang penguasa memerintahkan supaya Sarah menghadapnya. Ketika Sarah menemuinya, maka dia mencoba menjamahnya dengan tangannya lalu ia pun dihukum (oleh Allah sehingga tangannya kaku, tidak dapat digerakkan), lalu ia mengatakan: ‘Berdo’alah kepada Allah untukku dan aku tidak akan mencelakakanmu.’ Sarah pun berdo’a kepada Allah sehingga Dia melepaskan dirinya. Kemudian dia menjamahnya untuk kedua kalinya lalu ia pun dihukum seperti sebelumnya bahkan lebih keras, lalu ia pun mengatakan: ‘Berdo’alah kepada Allah untukku, dan aku tidak akan mencelakakanmu.’ Sarah pun berdo’a kepada Allah, sehingga dia terbebas. Akhirnya dia memanggil sebagian pengawal-nya seraya mengatakan: ‘Sesungguhnya kalian tidak membawa seorang manusia kepadaku, tetapi kalian membawa syaitan.’ Akhirnya dia memperbantukan Hajar kepada Sarah. Kemudian Sarah datang kepada Ibrahim dalam keadaan berdiri mengerjakan shalat. Setelah itu, Ibrahim menanyakan keadaan Sarah, maka ia menjawab: ‘Allah telah menjadikan tipu daya orang kafir -atau orang jahat- menimpa dirinya sendiri, dan dia memberiku Hajar (sebagai sahaya-ku).’” Abu Hurairah berkata: "Itulah ibu kalian, wahai Bani Maa'is Samaa' (bangsa Arab seluruhnya)." [4]

Al-Hafizh Ibnul Qayyim Rahimahullah mengomentari hadits ini: "Hadits ini berisi dalil atas orang yang memanggil isterinya: ‘Saudariku’ atau ‘ibuku’ dengan tujuan memuliakan dan menghormati, bukan menzhiharnya." [5]

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]
__________
Footnotes
[1]. HR. Abu Dawud (no. 2210) kitab ath-Thalaaq. Al-Mundziri berkata: "Ini adalah hadits mursal." Lihat ‘Aunul Ma’buud (VI/211).
[2]. "Ibrahim tidak berdusta." Al-Maziri berkata: “Adapun berdusta dalam menyampaikan apa yang berasal dari Allah, maka para Nabi ma’shum darinya, banyak maupun sedikit. Adapun yang tidak bertalian dengan penyampaian dan yang dikategorikan sebagai dosa-dosa kecil, seperti berdusta dalam perkara dunia yang remeh, maka kemungkinan terjadinya hal itu dari mereka ada dua pendapat yang masyhur di kalangan Salaf dan Khalaf.” Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: “Yang benar bahwa berdusta dalam penyampaian (wahyu dari Allah) tidak terbayangkan terjadinya pada mereka, baik kita membolehkan terjadinya dosa-dosa kecil maupun tidak, baik dustanya sedikit maupun banyak. Karena kedudukan Nabi terbebas darinya, dan membolehkan hal itu akan menghilangkan kepercayaan terhadap ucapan mereka.”
[3]. “Dua di antaranya dilakukan karena Allah.” Artinya, bahwa kedustaan-kedustaan tersebut hanyalah dalam hubungannya dengan pemahaman orang yang diajak bicara atau orang yang mendengar. Adapun dalam peristiwa ini, maka bukanlah kedustaan yang tercela, karena dua hal: Pertama, dia melakukan tauriyah (kata yang diucapkan mengandung makna yang berbeda dengan apa yang difahami oleh orang yang mendengarnya). Dia mengatakan tentang Sarah: “Saudariku seislam”, dan ini benar dalam esensi perkara. Kedua, seandainya dia berdusta, bukan tauriyah, maka itu boleh dalam rangka menolak kezhaliman. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam memperingatkan bahwa dusta-dusta ini tidak termasuk dalam kategori kemutlakan dusta yang tercela.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 3358) kitab Ahaadiitsul Anbiyaa', Muslim (no. 2371), kitab al-Fadhaa-il, at-Tirmidzi (no. 3166) kitab Tafsiir al-Qur'an.
[5]. Lihat ‘Aunul Ma’buud (VII/212). Ibnul Qayyim berkata: "Ucapan Ibrahim ini dinamakan dusta karena tauriyah. Manusia keberatan menyebut tauriyah sebagai dusta, karena orang yang berbicara tidak lain memaksudkan dengan lafazh tersebut suatu makna yang diinginkannya, lalu bagaimana disebut dusta? Penjelasan mengenai hal itu, bahwa ini kedustaan dalam hubungannya dengan pemahaman orang yang diajak bicara, bukan dalam hubungannya dengan tujuan orang yang berbicara. Karena pembicaraan itu mempunyai dua penisbatan: dinisbatkan kepada orang yang bicara dan dinisbatkan kepada orang diajak bicara. Ketika orang yang bertauriyah ingin memahamkan orang yang diajak bicara sesuatu yang berbeda dengan apa yang dimaksudkannya dengan kata-katanya, maka kedustaan dinisbatkan padanya."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI