Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Kamis, 30 September 2010

Keluarga Sakinah


Cerewetnya Orang Tua dan Temperamentalnya Anak

Cerewetnya sebagian orang tua kepada anak-anaknya bisa mengakibat sejumlah, seperti anak ikut menjadi cerewet, beringas, suka menyeleweng. Demikian juga "ketidaksepakatan" kedua orang tua dalam menentukan teknik atau model pendidikan anak, seringnya perselisihan kedua orang tua di depan anak-anak, akan mengakibatkan hal yang sama seperti di atas.

Sesungguhnya penyimpangan yang dilakukan anak-anak dalam bentuk cerewet, dan suka menyeleweng, atau pun beringas tidaklah mungkin bisa dikontrol oleh kedua orang tua, karena sifat mereka itu adalah hasil dari meniru kedua orang tuanya ketika mereka menghadapi masalah dengan cara cerewet, kekerasan, dan berlebih-lebihan.

Sesungguhnya perilaku kedua orang tua dengan gambaran temperamen-temperamen di atas adalah menunjukkan ketidakdewasaannya. Oleh karena itu, keduanya wajib untuk berperangai lembut dan bijak dalam memberikan solusi terhadap masalah mereka, baik yang berkenaan dengan diri mereka sendiri maupun masalah dengan anak-anak atau dengan orang lain.

Maka, seorang ibu dan bapak yang tidak mengindahkan masalah ini, ia tidak akan mengetahui bahwa dirinya dengan sekian sifat dan temperamen yang "kurang baik" itu, pada saat yang sama, ia sedang mengajari dan melatih anaknya untuk seperti dirinya dalam menghadapi capeknya kehidupan.

Dan pada masa berikutnya, sifat cerewet dan suka mengkritik orang tua kepada anaknya akan menyebabkan sang anak menjadi introvert (suka memikirkan dirinya sendiri). Dan sang anak akan menjadi menolak perilaku yang diinginkan orang tuanya dengan "perilaku yang bertentangan". Banyak keadaan dari kenakalan anak berawal dari ketakutan akan kecerewetan orang tua mereka.

Sebagain orang tua bertanya-tanya, "Bukankah mereka berhak untuk marah karena sebab kesalahan anaknya?" Ataupun ungkapan-ungkapan lain yang menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap penyimpangan anak-anak mereka dengan membentak (kalau tidak memukul).

Kami menjawab atas pertanyaan ini bahwa kedua hal itu, memukul dan membentak, bukan merupakan solusi atas permasalahan dan kesalahan anak-anak mereka. Sebab, bermuamalah dengan anak membutuhkan "ilmu dan kefahaman serta emphati terhadap kejiwaan anaknya" yang tidak hanya akan mempengaruhi bahkan akan melukai mereka dengan luka yang dalam, dan sulit untuk bisa disembuhkan dengan cepat. Sesungguhnya ungkapan "anakku selalu membuat keributan disekolah" atau "anakku tidak naik kelas" ketika melihat kekurangcerdasan anaknya, serta "selalu membantah dan melawan" semuanya dilakukan anak-anak karena meniru kedua orang tuanya.


Anakku Suka Membantah

Sebagian ibu-ibu suka mengeluhkan keadaan anaknya yang gampang terpancing dan terprovokasi oleh teman-temannya di sekolah. Ia sering mengulang-ulang kata dalam bentuk yang terus menerus, mengajukan pertanyaan terumenerus walaupun sudah aku jawab, sangat suka membantah dan membangkang, cepat marah sehingga ia jadi tidak naik kelas. Mungkin diantara obat yang paling baik untuk anak ini adalah memperbaiki cara hubungan keseharian antara kedua orang tua dengan anaknya tersebut.

Banyaknya pertanyaan anak kepada kedua orang tua, khususnya jika dalam bentuk tertentu. Misalnya: Wahai ibu, apakah engkau mencintaiku? Bapakku, apakah engkau juga mencintaiku? Engkau marah kepadaku? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan ia begitu cemas ketika menghadapi ayah dan ibunya, tidak merasa aman dan tenang ketika bersama kedua orang tuanya.

Sebagian orang tua suka menceritakan kekurangan dan masalah anaknya di depan orang lain, seolah-olah anaknya sedang tidak ada. Mayoritas orang tua meyakini bahwa cara yang paling utama untuk mengajari anak adalah membuatnya terdiam dan terpojok di depan tamu tentang segala masalah anaknya walaupun masalah sepele.

Dan mungkin diantara sikap yang jelek adalah ketika anakmu datang kepadamu mengajak bicara denganmu tentang sesuatu atau ia ingin diantar ke WC, atau ingin makan atau pun minum, maka engkau meladeninya dengan disertai perkataan yang jelek, misalnya "Wahai keledai, ... wahai si bodoh".

Dan sebagian lainnya meyakini bahwa selama anaknya masih kecil maka tidak perlu mengajak bicara dengan anaknya, bercanda dengannya, pergi bersamanya bertamasya. Hal ini menimbulkan tekanan jiwa pada anak yang oleh para pakar psikologi dinamakan "sindrom relasi interpersonal" antara anak dengan orang tuanya.

Maka, apabila seorang anak mengulang-ulang pertanyaan atau ungkapan walaupun sudah dijawab secara berulang-ulang juga; bertindak kasar dan cepat; atau memukul kawannya tanpa sebab yang jelas; bergerak tanpa makna seperti tertawa tanpa sebab, berteriak dan menangis tanpa sebab, maka anak tersebut pasti sedang mengalami salah satu dari sekian hal, yaitu ia butuh akan perhatian, afeksi dari kedua orang tua, khususnya ketika ibu atau bapaknya sibuk dan tidak memperhatikannya, mungkin juga sang anak mengalami tekanan jiwa karena mendapat beban yang ia tidak mampu kerjakan , atau pun mengalami kesalahan --walaupun kecil atau pun gagal dalam melaksanakan perintah-- karena takut dicela dan dikasari.

Adapun trik-trik solusi untuk permasalahan di atas adalah sebagaiberikut:

  1. Memberikan kepada anak perhatian dan bantuan yang "lebih" untuk menguatkan kepribadian dan kepercayaan dirinya.

  2. Tidak acuh tak acuh terhadap permintaan sang anak apalagi membentaknya di depan orang lain sehingga ia tidak merasa terlukai, jatuh harga dirinya, hina dan rendah.

  3. Membangun hubungan muamalah yang baik antara kedua orang tua dengan anak, duduk bersama, berbincang-bincang, dan menceritakan serta turut-serta dalam aktivitas bersama sang anak, baik olah raga, agama, kekerabatan, dan lain-lain.

  4. Acuhkan sifat anakmu yang jelek dengan terus engkau tidak meninggalkannya.

  5. Hendaklah selalu memelihara sifat lembut dalam menghadapi penyimpangan dan kesalahan sang anak.

Mendidik Puteri Tentang Kehidupan Suami-Isteri

Sesungguhnya memberikan perhatian kepada aspek khusus dalam pendidikan puteri adalah perkara yang wajib, sebagaimana memberikan perhatian kepada aspek umum dalam pendidikan dan pengajaran. Apabila sudah menjadi kewajiban para ibu dan bapak untuk mengajari anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan, pokok-pokok pendidikann, sopan-santun, dan pengetahuan umum. Maka wajib juga untuk mempersiapkan para puteri untuk mengetahui apa yang mesti mereka ketahui dan lakukan, seperti pekerjaan yang khusus bagi perempuan, mendidik anak, merawat rumah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang mulia:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (( كلكم راع، وكلكم مسؤول عن رعيته: فالإمام راع عن رعيته، والرجل في أهله ومسؤول عن رعيته، والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها، والخادم راع في مال سيده ومسؤول عن رعيته، وكلكم راع مسؤول عن رعيته )) متفق عليه

  1. Oleh karena itu, diantara kewajiban seorang ibu adalah mempersiapkan anak puterinya sejak usia dini untuk bisa menjalankan kehidupan keluarga dan kehidupan suami-isteri. Akan tetapi, kapan seorang ibu mulai bisa mengajari puterinya itu ? Dan, bagaimana cara menghadapi kehidupan?

  2. Pada hakikatnya, tidak ada batasan usia kapan seorang ibu bisa mengajari puterinya dalam urusan ini. Hanya saja, bisa dimulai pada usia 7 atau 8 tahun. Usia demikian sesuai dengan usia dimana sang puteri mulai belajar tentang shalat, puasa. Maka, pada saat itulah sang puteri siap untuk diajari hal-hal di atas. Usia ini mudah bagi seorang ayah memberikan perintah dan larangan. Dan sebaliknya, anak akan menerima pada usia dewasa dimana ia mulai merasakan sulitnya bermuamalah dengan anak laki-laki yang mulai dewasa. Wajib atas ibu untuk secara bertahap melatih dan mengajari puterinya sesuai tahapan usianya dan kemampuan pemahamannya dengan perintah dan larangan. Maka, pada perintah pertama kali, mintalah sang puteri untuk merapikan lemari pakaian dan kasur yang dekat dengannya. Dan jangan engkau minta ia untuk melakukan pekerjaan di atas kemampuan dan di atas usianya sehingga ia tidak mengalami kegagalan.

    1. Tunjukkan pada sang puteri kebahagiaan dan senangnya dirimu dengan pekerjaan sang puteri walaupun hasilnya tidak begitu optimal.

    2. Jika usia sang puteri sudah di atas 7 tahun, ajaklah ia membantumu mengerjakan sebagian kecil (yang ringan) pekerjaan rumahmu, seperti mengelap kursi, merapikan meja, misalnya.

  3. Mayoritas ibu melupakan sisi kehidupan kemasyarakatan dalam mengajari sang puteri, kecuali hanya mengajari "cara-cara menemui, menghormati tamu, menghidangkan makanan ...". Sebagian ibu-ibu juga melarang puteri-puterinya ikut dalam majelis ibu-ibu dengan alasan masih kecil. Padahal ia ingin dengan ikut di majelis itu, bisa mendapatkan ketrampilan yang berkaitan dengan kehidupan keseharian sebagai perempuan, apalagi jika majelis perempuan itu adalah majelis ilmu yang berisi wasiat tentang akhlaq mulia, takut kepada Allah ta'alaa.

    1. Jika sang puteri sudah menginjak usia dewasa, maka ibu harus mengajak sang puteri ke dapur untuk membantunya menyiapkan makanan dan memotivasinya untuk senang dengan pekerjaan itu.

    2. Kepada keluarga dan kerabat dekat, maka ingatkanlah mereka bagaimana peran sang puteri bersamamu. Sebab, manusia suka bila disebutkan kebaikannya diantara manusia. Maka, hal itu bisa membantunya terus menyukai pekerjaan itu dan tidak membuatnya mengeluh.

    3. Ceritakanlah kepada puterimu tentang kehidupan beserta problematikanya secara umum, dan ingatkan ia tentang sebagian aktivitas yang membuat capek plus solusinya, terutama pada awal-awal memulai kehidupan.

    4. Apabila sang puteri sudah siap untuk menikah, maka beritahulah ia bahwa sesungguhnya kehidupan suami-isteri bukanlah pakaian baru dan makan-makan yang beraneka ragam lagi warna-warni, akan tetapi kehidupan suami-isteri dibutuhkan ilmu, ketrampilan dan muamalah ...

Dan terakhir, ingatkan puterimu, gunakanlah kekuatannya untuk mengerjakan aktivitas dalam rumah tanpa harus meminta bantuan



sumbernya www.alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI