Assalamualaikum Tholabul ilmi sejati terimakasih atas kunjunganya di link ini semoga bermanfaat untuk kita semua.dan semoga Alloh memberikan Hidayah taufik untuk kita silahkan kritik dan saran antum

Jumat, 24 Agustus 2012

NABI YANG SEBENARNYA DAN NABI PALSU

Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin



Hanya ada dua kemungkinan ketika seseorang mengaku sebagai nabi. Mungkin ia adalah orang yang paling benar, atau kalau tidak ia adalah orang yang paling pendusta.

Ini merupakan perkara yang jelas, perbedaan antara keduanya tidak ada kesamaran sama sekali kecuali bagi orang-orang yang paling atau sangat bodoh. Bahkan ciri dan keadaan diri masing-masing pengaku akan memberikan kejelasan tentang hakikat masing-masing.

Jangankan pengakuan sebagai nabi, pengakuan terhadap sesuatu yang jauh dari derajat nabipun, untuk membedakan antara yang benar dengan yang dusta, banyak memiliki cara yang mudah. Apalagi pengakuan sebagai nabi.
Demikian antara lain pernyataan tepat yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Abi al-Izz -pensyarah Kitab Aqidah Thahawiyah- dalam Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah hal. 140 (cet.II – 1413 H/1993 M. Tahqiq & Ta’liq : Dr. at –Turky & Syu’aib al-Arna’uth, Muassasah ar-Risalah).

Dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai nabi penutup, maka jelasnya kebohongan para pengaku nabi sesudah beliau ibarat matahari di tengah siang hari bolong.

Selanjutnya di halaman berikut, Ibnu Abi al-Izz menyatakan bahwa : Tidak ada seorang pendustapun yang mengaku nabi kecuali pasti dirinya akan terlihat jelas sebagai orang yang bodoh, dusta, jahat dan dikuasai oleh setan, hal yang dapat dilihat oleh orang yang paling awamp sekalipun.

Sesungguhnya seorang Rasul (yang sebenarnya dan juga Nabi) pasti akan menyampaikan berita-berita kepada manusia, akan memerintahkan perintah-perintah dan pasti akan melakukan perbuatan-perbuatan yang itu semua akan memperjelas kebenarannya sebagai seorang Rasul. Sebaliknya, seorang pendustapun akan terlihat dari apa yang diperintahkannya itu sendiri, dari apa yang diberitakannya itu sendiri dan dari kelakuan yang diperbuatnya itu sendiri, sehingga dari banyak sisi akan memperjelas kebohongannya. Sedangkan orang yang benar adalah kebalikannya. Bahkan setiap dua orang yang masing-masing membuat pengakuan terhadap suatu urusan ; yang satu benar dan yang lain dusta, pasti yang benar akan terlihat benar dan yang dusta akan terlihat dusta, meskipun kadang butuh waktu. Sebab, kejujuran (benar) mengharuskan kebaikan, sedang kebohongan mengharuskan kejahatan. Sebagaimana tersebut dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَي الْبِرِّ، وَ(إِنَّ) الْبِرَّ يَهْدِي إِلَي الْجَنَّةِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ (وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا. وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَي الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَي النَّارِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.

Hendaknya kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu akan membimbing menuju kebaikan, dan sesunguhnya kebaikan itu akan membimbing menuju sorga. Tidaklah seseorang senantiasa (bersikap) jujur (dan berniat bersungguh-sungguh untuk jujur) kecuali niscaya dituliskan di sisi Allah sebagai orang yang benar-benar jujur (shiddiq). Dan janganlah sekali-kali kamu dusta, karena dusta akan membimbing pada kejahatan, dan sesungguhya kejahatan akan membimbing menuju neraka. Tidaklah seseorang senantiasa berdusta dan selalu sengaja berbuat kedustaan kecuali akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.

Tetapi begitulah kenyataannya, tetap saja ada pembohong yang mengaku sebagai nabi, kendatipun kepalsuannya telah nyata-nyata diketahui. Hanya karena ada orang-orang bodoh dan tidak waras pikirannyalah maka pembohong-pembohong tadi tetap mempunyai pengikut. ولا حول ولا قوة إلا بالهl .

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَي اللهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوْحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata : “saya telah diberi wahyu” padahal tidak ada sesuatupun yang diwahyukan kepadanya. [Al-An’am : 93].

Begitulah, akhirnya pembohong semacam Mirza Ghulam Ahmad pun mendapat pengikut, karena adanya orang-orang bodoh dan orang-orang yang pikiran serta hatinya tidak waras itu.

Nah ketika kedudukan nabi saja, ada orang yang berusaha memalsukannya, apalagi kedudukan-kedudukan lain yang derajatnya di bawah nabi. Maka tak heran jika belakangan ini muncul pendusta perempuan dengan pendamping-pendampingnya yang mengaku sebagai imam Mahdi. Lagi-lagi pengikutnya adalah orang-orang bodoh dan orang-orang yang pikiran serta hatinya tidak waras. Wallahu al-Musta’an.

Melihat kenyataan-kenyataan inilah, maka perlu kiranya di sini dibahas tentang dalil-dalil kenabian dan keistimewaan-keistimewaan nabi akhir zaman, sekalipun secara singkat. Harapannya, semoga bisa menjadi acuan untuk menilai bahwa hadirnya para pengaku nabi sesudah nabi Muhammad n adalah dusta. Bahkan para pengaku wali atau imam Mahdi.

DALIL-DALIL KENABIAN
Dalil-dalil kenabian adalah bukti-bukti yang dengannya dapat diketahui kenabian seorang nabi yang sebenarnya, dan kedustaan pembohong yang mengaku nabi.[1]

Menurut kebanyakan ahli Kalam, bukti kenabian seorang nabi terbatas hanya dengan mu’jizat, tidak ada bukti-bukti lainnya [2]. Pembatasan ini tentu tidak benar, sebab dalil-dalil atau bukti-bukti kenabian sangat banyak dan tidak bisa dibatasi jumlahnya. [3]. Dibawah ini adalah beberapa di antaranya:

1. Ayat-Ayat Dan Mu’jizat-Mu’jizat.
Pengertian ayat menurut bahasa ialah tanda-tanda yang memberikan petunjuk atas sesuatu. Tetapi yang dimaksud ayat di sini ialah : perkara-perkara yang terjadi diluar kebiasaan yang diberlangsungkan oleh Allah k melalui para nabi dan para rasul-Nya, dimana manusia biasa tidak dapat melakukannya. Misalnya, merubah tongkat menjadi ular yang bergerak-gerak. Peristiwa diluar kebiasaan semacam ini dimaksudkan sebagai dalil atas benarnya kenabian para nabi Allah, dan itu tidak bisa dilawan oleh kekuatan apapun.[4]

Sedangkan mu’jizat, secara bahasa adalah isim Fa’il dari kata al-‘ajzu yang artinya lemah, kebalikan dari mampu. Dalam al-Qamus, yang dimaksud mu’jizat nabi ialah: seuatu yang digunakan untuk menjadikan lawan lemah ketika berada ditengah tantangan. Jadi mu’jizat ialah perkara yang diluar kebiasaan yang diberlangsungkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tangan seseorang yang dipilih untuk menjadi nabi-Nya, untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dan keabsahan risalahnya. [5].

Dengan demikian, ada kesamaan arti antara ayat dan mu’jizat di sini.

Beberapa Contoh Mu’jizat Para Nabi
1. Mu’jizat Nabi Shalih Alaihissallam berupa Unta betina yang tidak boleh disembelih, sebagai hujjah atas kaumnya. (Begitu kaumnya melanggar, maka siksa Allah melanda mereka di dunia, sebelum di akhirat-pen).

2. Mu’jizat Nabi Musa Alaihissallam, diantaranya sebuah tongkat yang bisa berubah menjadi seekor ular.

3. Mu’jizat Nabi Isa Alaihissallam berupa kemampuan menyembuhkan orang buta dan orang yang menderita kusta, serta dapat menghidupkan orang mati, dengan izin dari Allah.

4. Mu’jizat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang jumlah serta ragamnya sangat banyak, yang paling besar adalah al-Qur’an al-Karim, suatu mu’jizat abadi yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta'ala menantang jin dan manusia, kemudian Isra’ – Mi’raj, kemudian terbelahnya bulan, bertasbihnya kerikil ditangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, menangisnya batang korma di hadapan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (ketika beliau hendak mengganti mimbar beliau dengan kayu), dan juga pemberitaan-pemberitaan beliau tentang peristiwa-peristiwa di masa mendatang maupun di masa lampau [6].

5. Dan contoh-contoh mu’jizat lain yang tidak bisa disebutkan di sini [baca misalnya: ar-Rusul wa ar-Risalat dibawah judul Dala’il an-Nubuwwah].

Catatan Berkaitan Dengan Kejadian Diluar Nalar Yang Merupakan Hasil Kerja Setan :
Banyak orang tersesat ketika mengira bawa setiap orang yang bisa memamerkan kejadian ajaib pada dirinya berarti adalah wali Allah yang shaleh. Misalnya, ada orang yang bisa terbang di udara atau berjalan di atas air. Bahkan boleh jadi ada yang mengaku nabi, seperti al-Harits ad-Dimasyqi yang muncul di Syam pada zaman Abdul Malik bin Marwan dan mengaku nabi (atau Mirza Ghulam Ahmad, atau Kadirun Yahya, atau Lia Aminudin atau Dajjal –nas’alullah min fitnatihi wamin fitnatihim jami’an). Al-Harits ini memamerkan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi melalui tangannya. Ia pernah dibelenggu kedua kakinya, tetapi bisa lepas, pernah dibacok dengan senjata tajam, tidak mempan, batu pualam bertasbih ketika di sentuh tangannya dan pernah suatu kali ia memperlihatkan kepada orang-orang di sekelilingnya tentang rombongan makhluk yang berjalan kaki dan naik kuda diudara, lalu ia katakan bahwa rombongan itu adalah malaikat. Keajaiban-keajaiban semacam ini adalah hasil kerja setan (bukan mu’jizat dan bukan karamah).

Oleh karena itu bila ada orang saleh yang hadir di situ lalu berdzikir kepada Allah atau membaca ayat Kursi atau membaca beberapa ayat al-Qur’an, maka sirnalah keajaiban setan yang mereka miliki itu.

Begitu juga al-Harits ad-Dimasyqi si pembohong, ketika kaum Muslimin berhasil menangkapnya untuk dibunuh, ia dipanah oleh seseorang di antara kaum Muslimin, tetapi tidak mempan. Maka Abdul Malik bin Marwan berkata kepada sipemanah : “Engkau tidak membaca basmalah”. Lalu orang itu membaca basmalah. Akhirnya al-Harits sang pembohong mati.

Dengan demikian, tidak setiap keajaiban yang dimiliki seseorang, berarti pemiliknya mesti wali Allah, apalagi nabi. Penyebab datangnya karamah (termasuk diantaranya mu’jizat) adalah keimanan, ketaqwaan dan keistiqamahan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya, jika penyebab datangnya keajaiban adalah kekafiran, kemusyrikan, kezaliman, dan kefasikan, maka tentu itu berasal dari keajaiban setan, dan merupakan hasil kerja setan. Sama sekali bukan karamah apalagi mu’jizat. [7]

2. Berita-Berita Dari Umat Terdahulu
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para Ulama Bani Israil mengetahuinya? [Asy-Syu’ara’ : 197].

Ayat ini menjelaskan bahwa di antara bukti-bukti yang jelas menunjukkan benarnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan benarnya syari’at yang beliau bawa adalah mengetahuinya Bani Israil tentang kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengetahuan yang telah tertulis dan terpelihara dalam kitab-kitab mereka. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ اْلأَوَّلِيْنَ

Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar tersebut dalam kitab-kitab orang-orang yang terdahulu [asy-Syu’ara’ : 196].

Al-Qur’an al-Karim yang turun dari sisi Allah -Rabb yang Maha berilmu dan Maha sangat mengetahui, menceritakan bahwa nama Nabi Muhammad dan umatnya telah tersebut di dalam kitab-kitab Samawi terdahulu. Dan bahwa para nabi terdahulu telah memberitakan tentang akan datangnya Muhammad sebagai nabi terakhir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَ كُمْ رَسُوْلٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ، قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ، وَأَخَذْتُمْ عَلَي ذَلِكُمْ إِصْرِي، قَالُوا أَقْرَرْنَا، قَالَ فَاشْهَدُوْا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi : “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, maka kamu harus sungguh-sunggguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka menjawab : “Kami mengakui”. Allah berirman : “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu” [Ali Imran : 81].

Para ahli tafsir memahami ayat di atas sebagai ayat yang menerangkan bahwa Allah telah mengambil perjanjian dari setiap nabi; jika (kelak) Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus sedangkan nabi-nabi tersebut masih hidup, maka mereka harus beriman kepadanya dan meninggalkan syari’at mereka untuk mengikuti syari’at Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Berdasarkan itu, maka penyebutan akan munculnya nabi Muhammad sudah ada pada setiap nabi terdahulu. [8]

3. Menghayati Kondisi Dan Latar Belakang Para Nabi.
Salah satu di antara hal yang membuktikan kenabian para nabi ialah jika menghayati kondisi dan latar belakang mereka yang amat dikenal oleh kaumnya, sebab mereka merupakan orang-orang yang akrab bergaul dengan masyarakat. Para nabi dikenal sebagai orang-orang terpercaya di tengah masyarakatnya, dikenal zuhud, dikenal sebagai orang-orang yang tak mengharapkan upah duniawi. Sebagai contoh adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bahkan diberi gelar olah bangsa Quraisy sebagai al-Amin (orang yang terpercaya) sebelum diutus sebagai nabi. Mengapa demikian? Karena kejujuran dan amanahnya.

Ketika pertama kali nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyerukan dakwah terbuka kepada bangsa Quraisy, beliau berkata : “Apabila aku kabarkan kepada kalian, bahwa dibalik lembah ini ada tentara berkuda yang hendak menyerbu kalian, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab : Kami tidak pernah sekalipun mendapati engkau berdusta” [HR. Bukhari].

Pembuktian model ini telah ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

قُلْ لَوْ شَاءَ اللهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَدْرَاكُمْ بِهِ، فَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ

Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? [Yunus: 16].

Maksud ayat di atas ialah : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada kaumnya : “Sesunguhnya aku telah tinggal bersama kalian untuk waktu yang tidak pendek sebelum aku memberi kabar kepada kalian bahwa aku adalah nabi; bagaimana perilakuku bersama kalian, bagaimana kejujuranku terhaddap kalian? Apakah selama itu aku pernah berbuat dusta kepada manusia? Dan kalau aku tidak pernah berbuat dusta kepada manusia, apakah lalu aku berani berbuat dusta atas nama Allah? Tidakkah kalian berfikir?. Tidakkah kalian menggunakan akal supaya dapat menuntun kalian menuju kebenaran?” [9].

Itulah satu di antara keadaan nyata para nabi. Bahkan ada sebagian orang yang hanya dengan melihat kepribadian, kehidupan dan perilaku nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka langsung memepercayai kenabian beliau. Mereka menjadikan kenyataan itu sebagai dalil, tanpa berfikir kepada bukti-bukti lain. Sebab hal itu sudah merupakan dalil yang terbesar.

Diantaranya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu 'anhu. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendakwahinya, sedikitpun ia tidak ragu menerimanya. Begitu pula Abdullah bin Salam Radhiyallahu 'anhu, ia hanya butuh satu kali pandang saja pada wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sudah cukup memberikan bukti kepadanya bahwa beliau bukan pendusta. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai di Madinah, Abdullah bin Salam –salah seorang tokoh ulama Yahudi kala itu- keluar untuk melihat wajah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Abddullah bi Salam berkata : “Setelah saya lihat wajah beliau, tahulah saya bahwa wajah beliau bukan wajah pendusta” [10].

Begitu juga Khadijah Radhiyallahu 'anha. Wanita yang faham betul keadaan suaminya sebelum menjadi nabi. Khadijah tidak ragu sama sekali kalau Allah pasti tidak akan menghinakan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena itu katika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pulang dari gua Hira’ seraya mengatakan : “Saya takut”, maka Khadijah berkata menghiburnya : “Sekali-kali jangan takut, demi Allah, Allah tidak akan menghinakan anda selama-lamanya. Anda adalah orang yang betul-betul menyambung silaturahmi, memikul tanggung jawab, menolong orang yang kekurangan, suka menghormati tamu dan membela kebenaran” [11]

Jadi melihat akhlak-akhlak tinggi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum menjadi nabi, Khadijah langsung mempercayainya ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa beliau mendapat wahyu Allah.

Hiraklius –Raja Romawi saat itu-, dalam dialognya dengan Abu Sufyan juga meyakini kebenaran kenabian Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, hanya dengan mendengar ciri-ciri serta keadaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sama persis dengan ciri-ciri yang ia (Hiraklius) kenal pada nabi-nabi umumnya. Hanya karena harga diri sebagai kaisar sajalah yang menghalanginya untuk mengimani Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam [12].

Jadi, secara umum, keadaan para nabi, kehidupan mereka, kejujuran, zuhud, serta segala ciri mereka yang amat dikenal oleh kaumnya masing-masing cukup menjadi bukti akan kebenaran kenabian mereka. Apakah pemalsu-pemalsu nabi, termasuk di dalamnya Mirza Ghulam Ahmad punya ciri-ciri seperti para nabi? Tidak. Bahkan ia dikenal sebagai keturunan orang yang bermasalah dengan kaum Muslimin. Fisik maupun karakternyapun dipertanyakan. Tidak ada sanad jelas yang menjamin kehebatan pribadi Mirza Ghulam Ahmad selain cerita-cerita bualan semata yang tanpa sanad. Orang berakal tentu tidak akan terperangkap kedalam cerita legenda Ghulam Ahmad ini –bi-idznillah-.

4. Dakwah Para Rasul
Memperhatikan dakwah para rasul juga merupakan sarana tepat yang dapat menunjukkan kebenaran kenabian mereka.

Para rasul telah datang membawa manhaj yang paripurna untuk memperbaiki manusia dan memperbaiki masyarakat manusia. Agama para rasul ini yang oleh mereka dikatakan sebagai agama yang turun dari sisi Allah, tentulah agama yang betul-betul dalam puncak kesempurnaannya, tidak mengandung kekurangan dan aib sama sekali. Tidak bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak pula dengan sunnah kauniyah.

Pendalilan (tentang kebenaran para nabi) dengan memperhatikan dakwah para rasul ini sebenarnya merupakan petunjuk al-Qur’an al-Karim. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا

Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [an-Nisaa’ : 82].

Bahwa Al-Qur’an (ayat-ayatnya) merupakan satu kesatuan yang utuh dimana satu sama lain saling membenarkan, tidak saling bertentangan dan tidak pula saling berselisihan, merupakan dalil yang jelas tentang kebenaran Nabi yang membawanya.

Begitu pula memperhatikan tujuan dakwah para Rasul serta keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai yang didakwahkan para Rasul merupakan bukti terbesar atas kebenaran mereka. [13]

5. Pembelaan Dan Pertolongan Allah Kepada Para Rasul.
Pembelaan dan pertolongan Allah kepada segenap nabi-Nya, dari sejak Nuh Alaihissallam hingga Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, semuanya membuktikan kebenaran kenabian mereka. Sebab mustahil bila mereka dusta lalu dibela dan ditolong oleh Allah. Allah berfirman :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيْلِ َلأَخَذْنَا مِنْهُ بِاْليَمِيْنِ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِيْنَ

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. [al-Haaqqah : 44-46]. [14]

Demikian beberapa dalil kenabian umumnya secara garis besar. Pembahasan berikutnya adalah kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

KEKHUSUSAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM.
Syaikh Shalih al-Fauzan (tokoh Ulama, anggauta dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) dalam kitabnya al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad (hal. 225-228) menyebutkan beberapa kekhususan Nabi Muhammad n dibanding semua nabi lain. Secara ringkas kekhususan-kekhhususan itu diantaranya :

1. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu (para sahabat), tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup nabi-nabi. [al-Ahzab: 40]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي

Saya adalah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudah saya. [15]

Hadits senada terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, at-Tirmidzi dan lain-lain.

2. Al-Maqam al-Mahmud (posisi yang terpuji), yaitu syafa’at Kubra yang menjadi hak beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا

Agar Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. [al-Isra’ : 79].

Hadits muttafaq ‘alaih yang panjang tentang syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seluruh manusia, membuktikan kedudukan terpuji beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak dimiliki nabi-nabi lain.

3. Risalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seluruh golongan jin dan manusia. Banyak ayat menjelaskan tentang itu, di antaranya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ

Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya. [Saba’: 28].

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قَضَى وَلَّوْا إِلَي قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), mereka berkata : “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. [Al-Ahqaf : 29].

Dalam hal ini semua sepakat.

4. Di antara kekhususan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah al-Qur’an al-Karim. Mu’jizat abadi yang tidak bisa ditiru dan dipalsu oleh siapapun, baik jin maupun manusia.

5. Di antaranya lagi adalah mi’raj beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ke langit-langit yang tinggi, ke Sidratul Muntaha hingga beliau dapat mendengar goresan pena Allah di atas sana. Jaraknya tinggal hanya dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.

Itulah beberapa kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh nabi-nabi selainnya, apalagi manusia biasa.

PENUTUP
Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa setiap orang yang muncul sesudah beliau dan mengaku sebagai nabi adalah orang yang paling pendusta.

Yang perlu diperhatikan di sini ialah (sebagaimna perkataan Syeikh Shalih al-Fauzan), bahwa ketika kedudukan nabi saja diaku secara dusta oleh sebagian pendusta seperti Musailamah al-Kadzab, al-Mukhtar, al-Harits al-Maqdisi, Mirza Ghulam Ahmad dan lain-lain, apalagi kedudukan yang derajatnya dibawah nabi. Maka tidaklah mengherankan kedudukan sebagai imam Mahdi (kedudukan “wali” dan kedudukan lain), akan lebih banyak di-aku-aku secara dusta oleh beberapa kalangan orang sesat. [16].

Karena itu umat Islam hendaknya tidak tertipu dengan seruan-seruan Lia Aminudin, Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah), Panji Gumilang, Jalaludin Rahmat (dengan IJABI-nya) atau yang semisalnya. Tinggalkan semua orang itu. Dan kembalilah kepada ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secarta ikhlas dan benar sebagaimana pemahaman (dan amalan) para Salafus Shalih Radhiyallahu 'anhum. Bukankah dengan kembali kepada ajaran al-Qur’an dan Sunnah secara benar seperti pemahaman sahabat Nabi dan tokoh-tokoh Salafus Shalih lain sudah cukup? Apalagi yang ingin dicari?.
-Nas’alullaha at-Taufiq wa as-Sadaad-.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad wa ar-Radd ‘ala ahlisy Syirki wal-Ilhad; Syeikh Shalih al-Fauzan, hal. 205 di bawah judul al-Iman bi ar-Rusul, sub judul Dala-il an-Nubuwwah.
[2]. Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 140
[3]. Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, Syeikh Shalih al-Fauzan, hal. 205
[4]. Lihat ar-Rusul war-Risalat, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Daar al-Falah-Kuwait, cet III 1405 H/1985 M, hal. 121
[5]. Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, Syeikh Shalih al-Fauzan, hal. 205
[6]. Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad hal. 206
[7]. Lihat ar-Rusul wa ar-Risalat, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, hal. 161
[8]. [Lihat dan baca selengkapnya kitab ar-Rusul wa ar-Risalat, Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar: 162, baca pula buku-buku sirah Nabawi
[9]. Ar-Rusul Wa ar-Risalat, hal 197
[10]. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan : Hadits Shahih. Juga di riwayatkan oleh Ibnu Majah/menukil dari al-Bidayah wa an-Nihayah; Ibnu Katsir III/210. Lihat Ar-Rusul wa ar-Risalat, hal. 198
[11]. Sahih al-Bukhari, Fathul Bari I/22 (ar-Rusul wa ar-Risalat, hal. 198
[12]. Lihat kisahnya, bagaimana Hiraklius berkata, dalam Sahih Bukhari, Kitab Bad’i al-Wahyi/Fathul Bari I/31
[13]. Ar-Rusul wa ar-Risalat, hal 202
[14]. Ar-Rusul wa ar-Risalat, hal 204-205
[15]. HR. Abu Dawud/4252 – awal kitab al-Fitan wa al-Malahim, Ahmad dalam Musnadnya, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah. Sanadnya Shahih. Lihat catatan kaki Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah; Dr. at-Turki & Syu’aib al-Arna’uth, hal. 157, cet II, Muassasah ar-Risalah
[16]. Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’’tiqad hal. 258

 http://almanhaj.or.id/content/3019/slash/0/nabi-yang-sebenarnya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog BULETIN THOLABUL ILMI