Oleh Abul Harits as-Salafy
KEDUSTAAN HIZBUT TAHRIR ATAS SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Sudah menjadi adat dan kebiasaan firqoh-firqoh sesat untuk memusuhi dan
memfitnah kepada pembela dakwah yang haq, yang menyeru manusia kepada
jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah rasul-Nya.
Abdul Qodim Zallum rahimahullahu, salah satu tokoh Hizbut Tahrir dengan
bangga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Kaifa Hudimat Khilafah
(dalam versi Indonesianya berjudul Konspirasi Barat meruntuhkan Khilafah
Islamiyah, hal. 5), sebagai berikut : “Inggris berupaya menyerang
negara Islam dari dalam melalui agennya, Abdul Aziz bin Muhammad bin
Saud. Gerakan Wahhabi diorganisasikan untuk mendirikan suatu kelompok
masyarakat di dalam negara Islam yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud
dan dilanjutkan oleh anaknya, Abdul Aziz. Inggris memberi mereka bantuan
dana dan senjata.”.....
Pada halaman selanjutnya dia mengatakan : “Telah diketahui dengan pasti
bahwa gerakan Wahhabi ini di provokasi dan didukung oleh Inggris,
menginggat keluarga Saud adalah agen Inggris. Inggris memanfaatkan
madzhab Wahhabi, yang merupakan salah satu madzhab Islam dan pendirinya
merupakan salah seorang mujtahid.”
Subhanallah ini adalah sebuah kedustaan dan fitnah, serta kezholiman
terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab qoddasallahu ruuhahu
yang mana hal ini tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang
benci terhadap Islam, benci terhadap Firqotun Najiyah, dan benci akan
tersebarnya dakwah salafiyyah yang sesuai dengan Al-Qur'an dan
as-Sunnah. Ingatlah akan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat
36.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggung jawabannya.” [Al-Isra : 36]
Dan yang paling mengherankan lagi, orang-orang Hizbut Tahrir menolak
khabar ahad / hadis ahad dalam masalah aqidah, walaupun hadis itu shohih
dari Rasulullah karena hal itu tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka,
dan ketika dalam masalah/perkara yang sesuai dengan hawa nafsu mereka
(Seperti kedustaan mereka atas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), dengan
penuh keyakinan dan kebanggaan mereka menerima khabar ahad walaupun itu
berasal dari seorang orentalis, sekaligus agen Inggris yang bernama Mr.
Hamver yang juga seorang pendusta. Untuk lebih jelasnya mengenai siapa
Hamver, marilah kita ikuti penjelasan Syaikh Malik Bin Husain dalam
majalah Al-Asholah edisi ke 31 tertanggal 15 Muharram 1422 H, beliau
berkata :
“Saya telah meneliti kitab yang beracun dengan judul Mudzakkarat Hamver
dan nama Hamver ini tidak asing lagi. Pertama kali aku membacanya di
Majalah Manarul Huda, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Maktabah
al-‘Alaami yang staf redaksinya dari Jam’iyyah Al-Masyaari’
al-Khairiyyah Al-Islamiyyah pada edisi 28, Ramadhan 1415 H/1995. Majalah
ini dikeluarkan oleh Jama’ah Al-Ahbasy, sebuah Jama’ah Sufiyyah
berpangkalan di Yordania dan selalu memusuhi dakwah salaf dan para
ulama’nya, dan mereka mendapat bantuan dana dari orang-orang Yahudi
dalam operasionalnya.
Setelah saya membaca makalah ini, jiwaku terdorong untuk membaca kitab
mudzakkarat mata-mata/intel Inggris ini, hingga aku mengetahui sampai
sejauh mana kebenaran yang dinisbatkan kepada Al-Imam Al-Mujaddid
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab ini. Ketika selesai
membaca mudzakkarat ini, telah jelas bagiku bahwa itu merupakan sebuah
dusta dari asalnya, dan Hamver ini adalah seorang yang asalnya tidak
ada, lalu diada-adakan. Maka dari itu saya ingin menjelaskan kepada
saudara-saudara sekalian tentang hal yang telah saya dapatkan dari
peneletianku terhadap mudzakkarat ini, dalam rangka membela Imam
Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- dan juga dapat pembelaan
terhadap kaum muslimin dari tikaman orang-orang ahlul bid’ah. Allah
Ta’ala berfirman :
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq
itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.”
[Al-Anbiya’ : 18]
Dan dalam ayat lain Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”
Pada ayat ini ada pelajaran ilmiyah bagi kelompok orang-orang mukmin,
yang menjaga agamanya dan menjaga hubungan persaudaran antar sesama
muslim, dengan mencari kejelasan (tatsabut) terhadap semua berita miring
yang dilontarkan untuk memecah belah barisan kaum muslimin.
Akan senantiasa terus menerus musuh-musuh dakwah (Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab –rahimahullah-) berusaha dengan berbagai cara untuk
menghancurkan dakwah ini, yang tidak ada di dalamnya keilmiahan
sedikitpun melainkan hanya kebohongan dan kedustaan, laa haula wala
quwwata illa billah. Wahai para pencari kebenaran, risalah-risalah dan
kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- telah
tercetak, diantaranya adalah seperti dibawah ini :
Al-Aqidah satu jilid, Fiqih dua jilid, Mukhtasor Siroh Nabi, kumpulan
fatwa-fatwa satu jilid, tafsir dan Mukhtasor Zaadul Ma’ad satu jilid,
Rosail Sakhshiyaah satu jilid, Kitab Hadits lima jilid, Mulhaq dan
Mushonnafat satu jilid. Jadi kesemuanya 12 jilid yang telah dikumpulkan
oleh Lajnah Ilmiyah yang khusus menangani masalah ini dan berasal dari
Jaami’ah (Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah), yang
dikumpulkan serta diverifikasi oleh DR. Abdul Aziz bin Zaid Ar-Ruumi,
DR. Muhammad Biltaaji dan DR. Sayyid Hijab, serta di cetak di Riyadh.
Maka barangsiapa yang ingin mencari kebenaran, hendaknya ia
membandingkan ucapan Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-
dengan ucapan musuh-musuh beliau. Karena kitab-kitabnya dan
risalah-risalahnya telah tercetak. Kalau ada sesuatu yang benar dari
kitab-kitab dan risalah-risalah beliau kita terima, dan kalau ada
sesuatu yang salah maka kita tolak, dan kita tidak fanatik kepada
seseorang siapapun dia, kecuali Rasulullah yang mana beliau tidak
berkata dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang telah diwahyukan
kepadanya.
Adapun kalau kita bersandar perkataan seorang Nasrani yang kafir yang
tidak dikenal, yang gemar minum minuman keras sampai mabuk, bahkan dia
menyebut kalau dirinya seorang pembohong. Maka keadaan kita persis
seperti apa yang digambarkan oleh syair dibawah ini :
Barangsiapa yang menjadikan seokor burung gagak sebagai dalil (hujjah)
Maka dia (burung gagak) akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing
Bagaimana tidak, padahal yang telah jelas dari risalah-risalah dan
bantahan-bantahan Al-Imam –rahimahullah- bahwasanya, di dalamnya ada
penafian (penolakan) terhadap apa-apa yang dikaitkan dengan dakwah
beliau yang berupa tuduhan-tuduhan, dan kedustaan-kedustaaan yang tidak
pernah beliau ucapkan, bahkan beliau mengingkarinya, dan berulang-ulang
beliau mengatakan : “Hadza buhtanun azhim (ini adalah suatu kedustaan
yang besar)”.
Semoga Allah merahmati Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan : “dan Kami
belum pernah menjumpai yang demikian itu dalam kitab-kitabnya”. Ketika
itu Syaikh Adz-Dzahabi menceritakan beberapa perkara yang dinukil oleh
sebagian mereka yang dengannya Imam Ath-Thabari menjadi tertuduh.”
Dan saya (syaikh Malik) katakan : Sesungguhnya apa-apa yang disebutkan
dalam mudzakkarat Hamver adalah omong kosong belaka, dan perkataan yang
tidak berlandaskan dalil sama sekali. Dan hal ini tidaklah keluar
kecuali dari dua macam manusia :
1. Orang yang bodoh kuadrat, tolol tidak bisa membedakan antara telapak tangannya dengan sikunya.
2. Orang yang memperturutkan hawa nafsu, ahlul bid’ah dan musuh dakwah tauhid.
Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya daging para ulama itu beracun,
barangsiapa yang mencela para ulama’ maka Allah akan mengujinya sebelum
ia mati dengan kematian hatinya. Kita memohon kepada Allah perlindungan
dan keselematan.
MUDZAKKARAT HAMVER PADA DASARNYA ADALAH SEBUAH KEBOHONGAN (KEDUSTAAN)
DAN HAMVER ADALAH SESEORANG YANG SEBENARNYA TIDAK ADA, LALU DIADA-ADAKAN
Setelah saya mempelajari mudzakkrat ini telah jelas bagi saya bahwasanya
mudzakkarat ini adalah hasil dari khayalan seseorang atau sebuah
kelompok yang misinya adalah menjelekkan/menjatuhkan dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- dengan kedustaan, kepalsuan.
Dan dalil dari perkataan ini sangat banyak, diantaranya :
1. Dengan mengikuti sejarah yang disebutkan di dalam mudzakkarat,
nampaklah bagi kita bahwasanya Hamver tatkala bertemu dengan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, tatkala itu umur beliau kurang lebih masih 10
tahun. Ini adalah hal yang tidak cocok bahkan bertentangan dengan apa
yang ada di mudzakkarat (hlm 30), bahwasanya Hamver berkenalan dengan
seorang pemuda yang sering datang ke sebuah toko, dan pemuda itu
mengetahui tiga bahasa, yaitu bahasa Turki, Faris, dan bahasa Arab, dan
ketika itu ia sedang menuntut ilmu, dan pemuda dikenal dengan nama
Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan tatkala itu beliau adalah seorang pemuda
yang antusias dalam menggapai tujuannya.
Dan engkau dapat merinci hal itu dengan dalil :
1.Disebutkan di (hlm 13) : Kementrian Penjajah Inggris mengutus Hamver
ke Asana (markas khilafah Islamiyyah) tahun 1710 M/1122 H).
2. Disebutkan di (hlm 18) : Bahwasanya dia tinggal di sana selama 2
tahun. Kemudian kembali ke London sebagaimana perintah, dalam rangka
memberikan ketetapan yang terperinci tentang kondisi di Ibu Kota
pemerintahan.
3. Disebutkan di (hlm 22) Bahwasanya dia berada di London selama 6 bulan.
4. Disebutkan di (hlm 22) Bahwasanya dia pergi ke Basrah dan berada di
sana selama 6 bulan. Di Basrah inilah dia (Hamver) bertemu dengan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-.
5. adi kalau dijumlahkan tahunnya maka dapat diketahui bahwa Hamver
ketemu dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- pada tahun
1713 M atau 1125 H dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-
lahir pada tahun 1703 M atau 1115 H. jadi waktu ketemu Hamver umur
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- pada waktu masih sekitar
10 tahun. Dari sini dapat diketahui kebathilan dan kebohongan
Mudzakarat ini.
6. Disebutkan di dalam Mudzakarat hlm. 100, bahwa Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab –rahimahullah- mulai menampakkan dakwahnya pada tahun 1143
H. dan ini merupakan kebohongan yang nyata, karena Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab –rahimahullah- mulai menampakkan dakwahnya pada tahun
kematian ayahnya yaitu tahun 1153 H.
7. Sesungguhnya sikap pemerintahan Inggris terhadap dakwah Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- bukan sikap yang ramah dan
bersahabat, tetapi sikap yang bermusuhan.
8. Kita tidak menemukan kitab yang menyebut tentang mudzakarat ini
sebelumnya. Dan musuh-musuh dakwah syaikh yang mubarak ini selalu
menjelek-jelekkan dakwah ini, menisbatkan semua kejelekan kepadanya, dan
anehnya hal ini baru dikeluarkan pada waktu akhir-akhir ini. Hal ini
jelas menunjukkan kebohongan dan kedustaan mereka.
9. Hamver adalah seseorang yang tidak diketahui (tidak dikenal), mana
maklumat yang menjelaskan tentang dia (hamver) ? tidak ada!!!, bahkan
tidak ada maklumat dari pemerintah Inggris yang menjelaskan tentang
tugasnya hamver ini.
10. Orang-orang yang membaca mudzakarat ini pasti tidak menduga kalau
yang menulis ini orang nasrani, karena banyak ibarat/perumpamaan yang
menikam agama Nashrani dan pemerintahan Inggris.
11. Dua naskah terjemahan dari mudzakarat ini tidak menyebutkan
tanda-tanda yang jelas mengenai kitab (mudzakarat yang asli), dan
ditulis pakai bahasa apa ? sudah dicetak atau masih dalam bentuk
manuskrip? itu semua tidak jelas.
12. Penerjemahnya pun tidak diketahui orangnya, pada naskah yang pertama
tidak disebutkan sama sekali tentang penerjemahnya. Begitu juga pada
naskah yang kedua.
13. Pada naskah terjemahan yang kedua dijelaskan tanggal penerjemahannya
yaitu : 25 ‘haziran’ 1990. Apakah perkara yang sepenting ini dibiarkan
begitu saja ? tidak ada yang mengetahui kecuali setelah 199 tahun
kematiannya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-.
14. Kedua naskah itu sepakat bahwa tanggal 2 Januari 1973 pada akhir
dari mudzakarat itu. Dan apa yang dimaksud dengan tanggal ini saya tidak
tahu ? apakah ini penulisan mudzakarat hamver ini (seperti yang nampak)
? Dan ini membuktikan kedustaan mudzakarat ini, bahwa wafatnya syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab adalah 179 tahun setelah tanggal yang
disebutkan itu.
15. Semua yang ada di kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membantah semua yang ada di muzakkarat ini.
16. Sesungguhnya keberadaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah
beliau sudah merupakan bukti yang cukup kuat untuk membantah apa yang
disebutkan di mudzakkarat.
SIKAP PEMERINTAH INGGRIS TERHADAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB
Ketika pemerintah Inggris mulai merasakan dari dakwah Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab yang semakin menguat dan meluas di berbagai daerah yang
di duduki oleh pemerintah Inggris. Seperti yang terjadi di India,
terdapat dakwah Syaikh Ahmad bin Irfan yang terkenal dengan nama Ahmad
Barily dan para pengikutnya yang mulai menguasai India dan menentang
dakwah sesat dari Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodiyani yang di dudung
sepenuhnya oleh Inggris dan dan orang-orang yang tidak mengerti Islam
sama sekali kecuali hanya sekedar namanya saja.
Keseriusan pemerintah Inggris untuk menghancurkan dakwah Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab yang menyeru manusia untuk kembali kepada Al-Qur'an
dan As-Sunnah ini semakin nampak. Ini terbukti dengan biaya dan tenaga
yang sangat besar yang telah keluarkan dalam menghentikan dakwah yang
mubarakah ini. Salah satu bukti kuatnya adalah ketika Ibrahim Baasya
dari Mesir, berhasil menghancurkan kota Dar’iyyah di Riyadh, tempat
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan raja Abdullah bin Su’ud bin Abdul
Aziz.
Pemerintah Inggris mengutus George Forster Sadleer yang menjabat sebagai
ketua Agen Inggris yang berkedudukan di India untuk melakukan
perjalanan panjang dan melelahkan menuju ke Riyadh dengan tujuan
memastikan bahwa Dar’iyyah benar-benar sudah hancur sekaligus memberikan
ucapan selamat dan penghargaan kepada Ibrahim Baasya. Setelah melalui
perjalanan yang melelahkan akhirnya rombongan Sadleer ini bertemu dengan
Ibrahim Baasya pada tanggal 13 Agustus 1819 M di tempat yang bernama
Bi’ir Ali di dekat kota Madinah.”
Dari data-data diatas jelaslah kedengkian Hizbut Tahrir terhadap dakwah
tauhid yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan tidak
terbatas pada beliau saja, tetapi Hizb ini membenci semua ulama’ yang
mendakwahkan tauhid. Dibawah ini penulis akan menghadirkan beberapa
tuduhan bathil Hizbut Tahrir terhadap para ulama’ salaf.
Agar pembaca dapat mengetahui dan membandingkan antara tuduhan Hizbut
Tahrir dan fakta yang ada, maka penulis disini sengaja menghadirkan
sejarah singkat syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman
Attamimi, beliau lahir di sebuah rumah yang terkenal yang penuh dengan
ilmu di kota Uyainah tahun 1115 H/ 1703 M. kakek beliau Sulaiman bin Ali
bin Musyrif adalah seorang ulama’ yang terkenal pada zamannya, beliau
adalah orang yang dijadikan rujukan para ulama’ pada zamannya. Beliau
menulis sebuah kitab yang sangat terkenal dalam masalah Manasik Haji.
Begitu juga pamannya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, juga seorang
ulama’ ahli fiqih, ayah syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman seorang Hakim
yang juga Ahli fiqh.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang cerdas, hafal
Al-Qur’an sebelum usia 10 tahun. Belajar Fiqih Hambali pada ayahnya.
Syaikh Abdul Wahhab kagum dengan kecerdasan anaknya dalam menerima
pelajaran.
Di samping itu Syaikh Muhammad juga belajar dari beberapa guru di
berbagai daerah, sampai ke Madinah. Setelah memahami ilmu tauhid dari
Al-Qur’an dan Sunnah, beliau melihat di kotanya Najd banyak terjadi
kesyirikan, khurafat, dan bid’ah yang merajalela. Beliau menyaksikan
para wanita yang belum menikah pergi ke pohon-pohon kurma yang
dikeramatkan dan bertawassul (meminta) kepada pohon-pohon kurma itu agar
mereka diberikan jodohnya pada tahun ini. Di Hijaz beliau melihat
orang-orang mengkeramatkan kuburan para sahabat dan ahlul bait, dan di
kota suci Madinah Al-Munawwaroh yang dulu merupakan pusatnya tauhid,
beliau menyaksikan bagaiman manusia beristigosah dan berdoa kepada
kepada Rasulullah, yang mana hal itu menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah
seperti yang difirmankan Allah dalam surat Yunus :
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Janganlah kalian menyeru kepada selain Allah yang tidak mampu memberi
kalian manfaat tidak pula memberikana bahaya. Jika kalian melakukannya
maka sesungguhnya kalian adalah termasuk orang-orang yang zhalim.”
Dan hadits Rasulullah. “Jika kamu meminta maka memintalah hanya kepada
Allah dan jika kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.”
Menyaksikan semua kemungkaran itu, beliau bangkit dan segera memulai
dawah beliau dengan memurnikan keta’atan kepada Allah, memurnikan tauhid
masyarakat Arab yang tercampur dengan Syirik, khurafat, dan bid’ah.
Beliau seakan-akan membawa agama baru bagi masyarakat Arab pada waktu
yang tengah tenggelam dengan kesyirikan, bid’ah dan khurafat.
Mulailah terjadi perlawanan dari kelompok-kelompok sesat yang merasa
dirugikan dengan adanya dakwah Syaikh ini, kemudian mereka mencoba
mengadakan perlawanan baik fisik maupun pikiran. Fitnah dan tuduhan keji
mulai di arahkan kepada beliau, dengan menyebut semua yang menyelesihi
adat dan kebiasaan mereka disebut “Wahhabi” segala sesuatu yang konotasi
jelek disebut “Wahhabi”, namun beliau tetap berdakwah kepada Allah,
memperingatkan manusia dari bahaya yang mereka lakukan, berusaha
mengumpulkan kalimat mereka diatas kebenaran, dan dalam satu
kepemimpinan yang ditegakkan pada mereka perintah Allah, dan mereka
berjihad dijalan Allah, maka beliau bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan hal ini, berdakwah kepada Allah, berhubungan dengan para
pemimpin, menulis kitab-kitab tentang tauhid/perintah untuk meng-Esakan
Allah, dan melaksanakan syariat, serta meninggalkan kesyirikan.
Beliau senantiasa bersabar atas yang demikian itu, mengharapkan pahala
dari Allah. Sesudah beliau mempelajari dan memperdalam agama dari para
ulama di negeri itu dan selainnya, beliau berusaha bersungguh-sungguh
dalam berdakwah kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya, mempersatukan
umat di kota Huraimala pada awalnya, lalu di Al Uyainah, lalu berpindah -
sesudah beberapa perkara - ke Dar'iyyah, dan Muhammad bin Su’ud
membaiatnya untuk berjihad di jalan Allah, untuk menegakkan perintah
Allah maka mereka semua adalah orang-orang yang benar dalam hal ini,
saling tolong-menolong, maka merekapun berjihad hingga Allah memberi
kemenangan dan menguatkan mereka. Meka merekapun menyiarkan tauhid,
mengajak manusia kepada kebenaran dan petunjuk dan menerapkan syariat
Allah terhadap hamba-hambaNya.
Disebabkan kejujuran dan “isti’anah” (meminta pertolongan) kepada Allah,
dan karena tujuan yang benar Allah menolong dan menguatkan mereka. Dan
cerita tentang mereka itu sudah tidak asing lagi bagi mereka yang
memiliki pengetahuan meski sedikit.
Setelah Muhammad bin Su’ud, kemudian datanglah Raja Abdul Aziz (sesudah
masa yang penuh dengan kekacauan dan perpecahan), beliau
bersungguh-sungguh dalam memperbaiki keadaan umat ini sambil memohon
pertolongan kepada Allah, kemudian meminta bantuan para ulama, maka
Allah pun menolong dan menguatkannya, serta mempersatukan kalimat kaum
muslimin Jazirah ini. Di atas Syariat dan di jalan-Nya, sehingga tegak
dan bersatu jazirah ini dari penjuru utara hingga selatan, timur hingga
barat di atas kebenaran dan petunjuk, dengan sebab kejujuran, jihad, dan
menegakkan kalimat Allah.
Dalam menyingkapi fitnah terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan
agar pembaca bisa menilai dengan adil, maka marilah sejenak kita simak
perkataan Syaikh Muqbil bin Hadi -rahimahullah-:
“Maka jika kita melihat ketika diutusnya Nabi kita Muhammad r dan
melihat perbuatan (jahat) orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam kepada
Nabi kita Muhammad r, lalu kita menyaksikan akhir kesudahan yang baik
itu adalah bagi orang bertakwa. Dan demikianlah sesudah Nabi kita
Muhammad r hingga zaman kita ini yang dianggap sebagai zaman fitnah,
fitnah yang bermacam-macam yang tidak akan mengetahui banyaknya fitnah
itu melainkan Allah U.
Dalam zaman ini yang tercampur padanya kesyirikan dan hal-hal jelek bagi
kaum muslimin, terdapat kebangkitan yang diberkahi yang mana keutamaan
dan karunia ini adalah karena Allah. Dia-lah yang memberkahi,
menumbuhkan dan menunjuki jalannya. Lalu musuh-musuh Islam bermaksud
menjauhkan manusia dari kebangkitan yang diberkahi ini dengan memberikan
bermacam-macam julukan dan nama untuk memalingkan kaum muslimin dari
kebangkitan yang diberkahi ini, dan kesadaran yang diberkahi.
Dan kami berbicara –insya Allah- tentang satu julukan, walaupun (segala
puji bagi Allah) banyak saudara-saudara kita tidak mengetahui tentang
hal ini. Akan tetapi ini termasuk dari (melaksanakan) bab : "Hendaknya
seorang yang tahu menyampaikan kepada orang yang tidak tahu". Karena
sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Hendaknya
orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir".
Dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Semoga Allah
memperindah yang mendengar perkataanku, lalu menyapa, menghafal dan
menyampaikannya"
Itulah kata buruk yang disebarkan oleh orang-orang komunis, pengikut
partai ba'ats, pengikut pemahaman Jamal Abdul Nasir, orang-orang Syi'ah,
orang-orang Sufi ahli bid'ah, mereka menyebarkannya dilingkungan
masyarakat kita untuk menghalangi manusia dari sunnah Rasulullah,
kata-kata itu adalah kata "Wahabiyyah", maka barangsiapa berpegang teguh
dengan sunnah Rasulullah, mereka menjauhkan manusia darinya dan
memberikan julukan itu agar manusia lari darinya.
Dan sepatutnya diketahui, bahwasannya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-
adalah termasuk ulama yang hidup pada abad ke-12 Hijriyah, beliau
seorang ulama yang bisa benar dan bisa salah, kalaulah kita orang-orang
yang buat "Taklid" (mengikuti tanpa dasar) tentulah kita akan "Taklid"
kepada ulama Yaman kita yaitu Muhammad bin Ismail Al-Amiir Ash-Shan'ani
–beliau hidup sezaman dengan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab-, dan
beliau lebih alim daripada syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, akan tetapi
syaikh Muhammad bin Wahab dakwahnya diberi kekuatan oleh Allah dengan
kekuasaan dan tersebarlah ilmunya. Dan Muhammad bin Ismail Al-Amiir yang
hasil karya beliau (karangan-karangannya) memenuhi dunia. Kaum muslimin
mendapat manfaat dari kitab-kitabnya, walaupun orang-orang Yaman
menghancurkan beliau dan mereka berkehendak mengusirnya dari negeri
Shan'a (Yaman)
Itulah kata (Wahabiyyah) yang dengannya manusia dijauhkan dan dihalangi
dengannya dari sunnah Rasulullah, wajib bagi kalian untuk berhati-hati
dari perkaranya dan kalian hendaknya melihat apa maknanya.
Kata itu (Wahabiyyah) adalah dinisbatkan kepada seorang ulama dan
bukanlah dinisbatkan kepada "Marx" dan bukan pula dinisbatkan kepada
"Lenin" dan bukan pula dinisbatkan kepada "Amerika" dan bukan pula
dinisbatkan kepada "Rusia" dan bukan juga dinisbatkan kepada "Para
pemimpin musuh-musuh Islam" dan kami tidak memperbolehkan seorang muslim
untuk menisbatkan dirinya kecuali kepada Islam dan kepada Nabi kita
Muhammad r.
Sepatutnya kalian berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam masalah ini.
Nabi Sulaiman u ketika burung Hud-hud mengabarinya apa yang dilakukan
oleh Ratu Saba' dan kaumnya :
ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ
الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman: "Di
manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu
memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mu'min)?" Berkatalah
orang-orang yang telah diberi ilmu): "Sesungguhnya kehinaan dan azab
hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir". [An-Nahl : 27]
Dan Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al-Hujurat : 6]
Kami berbicara tentang hal ini bukanlah lantaran Ahli Sunnah dan Ahli
Agama di "Dammaj" (tempat Syaikh Muqbil bermukim) karena sesungguhnya
dakwah mereka (Segala Puji bagi Allah) diterima oleh penduduk Yaman,
akan tetapi permasalahannya adalah propaganda ini telah melanda negeri
Saudi Arabia, Mesir, Sudan, Syam, Iraq dan seluruh negeri-negeri Islam.
Barangsiapa berpegang teguh kepada Agama, mereka berkata : "Itu adalah
Wahabi".
Dan Allah berfirman dalam kitab-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا
الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ
الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ
وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى
الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ
الْعِقَابِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi`ar-syi`ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan
janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya.” [Al-Maidah : 2]
Dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda sebagaimana
dalam shahih muslim : "Orang muslim adalah saudara muslim lainnya. Ia
tidak akan mendhaliminya, menghinakannya dan tidak meremehkannya.
Ketakwaan itu adalah disini (beliau menunjuk)”
Kami memperingatkan tentang propaganda ini, karena rasa kasih sayang
kepada saudara-saudara mereka secara umum dari berburuk sangka kepada
saudara-saudara kita para dai yang menyeru ke jalan Allah “Azza wajalla”
dan hendaknya mereka tidak mengganggu saudara-saudara mereka para dai
di jalan Allah, karena Allah berfirman dalam Al Qur’an :
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al Ahzab : 58]
Dan Perkaranya adalah sebagaimana pepatah : “Lempar Batu Sembunyi Tangan”
Perkaranya (adalah sebagaimana telah dikatakan) bahwasanya komunis,
pengikut partai ba’ats, ..........berbeda dengan ahli sunnah wal jama’ah
dan para dai yang menyeru kepada Allah, dan Allah berfirman :
وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian di
tuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya i a
telah berbuat suatu kebohongan yang nyata.” [An Nisa : 112]
Dan aku katakan kepada saudara-saudara para da’i yang menyeru kepada
Allah di seluruh negeri Islam : Hendaknya mereka bersungguh-sungguh
menyingsingkan lengan (dalam berdakwah), dan hendaknya mengharapkan
wajah Allah (dalam berdakwah), bukan lantaran ingin mendapatkan kursi,
kedudukan, dan bukan pula lantaran ingin mendapatkan sedikit kehidupan
dunia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali jika amal itu
didasari keikhlasan untuk mengharapkan wajah Allah, berdakwah kepada
Allah lebih tinggi nilainya daripada kursi, kedudukan dan sedikit
kehidupan dunia ini.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan siapakah yang lebih baik perkaataannya daripada orang yang menyeru
kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata : “Sesungguhnya aku
termasuk orang yang berserah diri.” [Fushilat :33]
Ya, Allah berfirman :
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ
فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا
لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu
menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan
(pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah
apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.”[An Nisa :104]
Kalian mempunyai Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, sedangkan musuh-musuh kalian dari kalangan kaum komunis,
pengikut partai ba’ats, pengikut pemahaman Nasirin, syi’ah, Sufiyyah,
propaganda mereka dibangun diatas kedustaan, kebohongan, pengkhianatan.
Sedangkan para dai yang menyeru kepada Allah tidak ada yang menolong
mereka melainkan Allah, dan cukuplah Allah sebagai penolong. Dan Allah
berfirman dalam Al Qur’an untuk mengokohkan hamba-hamba-Nya yang beriman
:
إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ ۚ
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ
الظَّالِمِينَ وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ
الْكَافِرِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman.Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka,
maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka
yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di
antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah
membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan
supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah
tidak menyukai orang-orang yang zalim,” [Ali Imran : 139-140]
Dan Allah juga berfirman :
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan
Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi
(pahala) amal-amalmu.” [Muhammad : 35]
Akan tetapi sepatutnya dakwah itu bukanlah dakwah untuk pemberontakan
dan penggulingan, karen dakwah seperti ini lebih banyak
kerusakandaripada kebaikannya, dakwah itu adalah mengajak kaum muslimin
kembali kepada Al Qur’an dan sunah nabi mereka Muhammad Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam
Allah berfirman :
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
"Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap’.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." [Al Isra
: 81]
Dalam ayat yang diberkahi ini terdapat berita gembira dari Allah
bahwasanya kebatilan tidak akan mampu berdiri kokoh didepan kebenaran,
dan Allah berfirman :
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا
فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ
فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ
كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ
فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي
الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di
lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang
mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk
membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus
itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang
bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada
harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di
bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” [Ar Ra’du :
17]
Maka kami memuji kepada Allah yang membangkitkan penduduk Yaman
khususnya, dan juga penduduk Najd di Al Haramain, dan di Mesir, sungguh
banyak diantara mereka menjadi orang-orang yang tidak terpengaruh dengan
propaganda yang keji ini yang mana proopaganda ini ditujukan kepada
seorang ulama yang dipuji oleh ulama Islam. Muhammad bin Ismail Al-Amir
An-Shan’ani -rahimahullah- berkata tentang diri syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab :
Telah datang kabar gembira (datangnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)
Yang telah mengembalikan syari’at Islam
Beliau singkap kebodohan orang jahil dan mubtadi’ maka beliau bersamaku
Beliau bangun kembali tiang-tiang agama dan menghancurkan kuburan-kuburan keramat yang membuat manusia sesat
Mereka membuat kembali berhala-berhala seperti suwa’ yaghuts, wad dan ini sejelek-jeleknya
Dan mereka memohon kepada berhala-berhala itu dikala susah seperti seorang yang meminta Allah Yang Maha Esa
Berapa banyak orang yang thowaf dikuburan sambil mencium dan mengusap dinding-dinding kuburan dengan tangan-tangan mereka.
Maka wajib bagi para da’i yang menyeru kepada Allah untuk menetapkan
kebenaran, dan sungguh kami telah mengatakan dalam beberapa pelajaran
maupun khutbah bahwasannya propaganda itu adalah kedustaan untuk
menyandarkan diri kita kepada syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,
sesungguhnya kami tidak ridha untuk dinisbatkan melainkan kami hanya
ridha kami dinisbatkan kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam
yang memberi syafa’at kami dan yang kami cintai, yang mana Allah
mengeluarkan kami dengan perantaraan beliau r dari kegelapan kepada
cahaya. Propaganda-propaganda itu akan hilang sebagaimana pernah
dijuluki As-Shabi’ artinya orang yang keluar dari agama nenek moyangnya
dan berganti agama dengan agama lain. Adapun kita tidaklah keluar dari
agama kita berganti dengan agama lainnya kita tidak mengkafirkan
bapak-bapak kita, kakek-kakek kita, sebagaimana persangkaan mereka ! dan
kita tidaklah mengkafirkan para wali dan tidaklah membenci ahlul bait
(keluarga Nabi), dan kita telah membicarakan tentang keutamaan-keutamaan
keluarga Nabi dalam beberapa ceramah. Dan kita tidak membenci
orang-orang shalih dan kita tidak mengkafirkan masyarakat kita, dan kita
tidak memperbolehkan untuk keluar dari ketaatan pemerintahan muslim,
maka hendaknya orang yang menyaksikan hal ini menyampaikan kepada orang
yang tidak hadir, dan sesudah ini propaganda itu akan lenyap dan akan
menjadi sebab bagi tersebarnya sunnah Rasulullah r, Allah berfirman
dalam Al-Qur’an :
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا
اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ
عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk
bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di
antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita
bohong itu baginya azab yang besar.
لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin
dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan
(mengapa tidak) berkata: ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.’"
[An-Nur 11-12]
Jika kamu mendengarkan seseorang berkata : “Itu orang Wahabi”, maka
ketahuilah bahwa ia termasuk dari salah seorang dari dua orang ini :
1. Mungkin ia seorang yang melakukan perbuatan keji.
2. Atau mungkin seorang yang bodoh tidak mengetahui hakekat ini.
Ini adalah kedustaan yang besar terhadap para da’i yang menyeru kepada Allah, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ
آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat
keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab
yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu
tidak mengetahui." [An-Nur 19]
Allah telah menamai kita sejak zaman dahulu sebagai seorang muslim dan
kita umat Muhammad r tidak meridhai Nabi Muhammad diganti, kami tidak
meridhai untuk menisbatkan diri kami kepada Syafi’i atau Zaidi atau
kepada Wahabi atau selain ini. Mereka itu semua adalah para ulama yang
agung yang menganggap jahat orang yang menisbatkan dirinya kepada
mereka.
Saya menasehatkan kepada setiap saudara seagama untuk membaca kitab
beliau rahimahullahu yaitu Kitabut Tauhid niscaya kalian akan melihat
ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Kitab itu adalah kitab yang
agung walaupun didalamnya ada hadits-hadits yang dha’if, namun tidaklah
memberi mudharat.
Sungguh saya telah menerangkan dalam kitab “An-Nahju Asy-Syadidu” , lihatlah disana
“Janganlah kalian menjadi bunglon tapi hendaklah kalian mengatakan jika
manusia berbuat baik maka kami akan berbuat baik, dan jika mereka
berbuat dhalim maka kami akan berbuat dhalim, akan tetapi tanamkanlah
dalam jiwa-jiwa kalian jika manusia berbuat baik kalian akan berbuat
baik, dan jika mereka berbuat jahat maka janganlah kalian berbuat
jahat.” Wallahumusta’an.”
Itulah pendapat Syaikh Muqbil terhadap orang-orang yang menisbatkan
sesuatu yang jelek kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan
memberinya julukan Wahabi. Seorang ulama’ yang lain berkata :
“Pada masa lalu Imam Syafi’i dituduh sebagai seorang rafidhi (pengikut syi’ah rafidah), dan beliau (Imam Syafi’i) menjawab : “
Jika orang yang cinta kepada Muhammad itu disebut Rafidhah
Maka saksikanlah wahai manusia bahwa saya Rafidhi
Jika orang yang mengikuti Nabi Muhammad disebut Wahhabi
Maka saya mengikrarkan bahwa diri saya adalah seorang Wahhabi.
Footnote :
[2]. Demikian pula apa yang dimuntahkan oleh al-Mudzabdzab al-Hizbi dan
Abu Rifa al-Buali (pembual) ash-Shufi al-Bid’i yang jahil murokkab.
Insya Allah akan saya berikan bantahan khusus terhadap syubuhat kedua
orang bodoh ini. (Abu Salma)
[3]. Abu Salma : Ahbasy ini adalah jama’ah takfiri yang sangat sesat dan
menyesatkan, Syaikh Abdurrahman bin Said ad-Dimasyqiyah memiliki
bantahan yang cukup tebal terhadap kesesatan al-Ahbasy ini yang berjulul
Mausu’at Ahlis Sunnah
[4]. Ini sama dengan dimuat di majalah Manarul Huda; milik kelompok
Al-Habasyiyah Al-Haruriyyah, (kelompok sufi exterm yang memusuhi dakwah
syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) edisi 28, bulan Ramadhan 1415 H./1995
M. hal. 62, dikatakan sebagai berikut : Dan Pada tahun 1125 H/1713 M
mata-mata Inggris Hamver bekerja sama dengan syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab menghapus/melenyapkan Islam. Dan syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
menyebarkan kebohongan-kebohongan yang diperintahkan oleh
mata-mata/intel Inggris dengan nama Wahabiyyah.
[5]. Lihat kitab dengan judul : Unwanul Majd fi Tarikhil Najd, yang ditulis oleh Utsman bin Basyar, 1/29.
[6]. Mas’ud An-Nadwi, Muhammad bin Abdul Wahhab Muslih Madhlum wa
muftara alaihi, Mamlakah Arabiah : Kementrian urusan Wakaf dan Dakwah,
1999), hal. 146.
[7]. Mas’ud An-Nadawi, Muhammad bin Abdul Wahhab Muslihun madhlumun wa
muftara’ alaihi, (Kementrian Wakaf dan Da’wah KSA : Mekkah, 1420/2000),
h.37-39.
[8]. Muhammad bin Jamil Zainu, Manhaj Firqotun Najiyah,h. 48-49.
[9]. Abdul Aziz bin Baz, “Asbab dho’fil Muslimina amama aduwwihim wa
wasail ilaj lidalika,” Majalah Adz-Dzakhirah Al-Islamiyyah, Surabaya,
Edisi 10, 1425 H/2004.
[Sumber : http://abusalma.blogspot.com/2005/05/menjawab-tuduhan-batil-terhadap-dakwah.html]